Pagi ini anak sulungku bangun subuh, sebenarnya karena kebelet pipis. Lalu dia tanya, “Bunda ini udah waktunya sholat ta?”
“Iya Mas. Udah subuh. Mandi sekalian ya Mas.” jawabku. Dia tidak akan bisa tidur lagi saat tahu kalau sudah pagi, bukan malam lagi.
Awalnya, dia menolak, tapi setelah kembali ke kamar mandi lagi untuk buang hajat besar, akhirnya setuju walaupun dengan keberatan hehe …. Menurutnya, masih dingin jadi nanti-nanti saja. Aku ingatkan kalau kemarin Kakak berangkat kesiangan karena menunda-nunda mandi. Dia pun setuju.
Biasanya dia hanya protes sejenak, selanjutnya dia akan setuju tanpa rewel. Namun, ternyata kali ini ada yang berbeda. “Bunda, hari ini aku nggak mau sekolah. Aku capek.”
Hmm, tadinya mulut ini ingin meluncurkan kalimat-kalimat pamungkas, tapi segera kuurungkan. Alhamdulillah, tahan, tahan, yuk mikir! Sejenak aku teringat kata Teh Kiki Barkiah dalam webinar “Pengasuhan Minim Ngegas (Meneladani Komunikasi ala Rasulullah)" beberapa hari lalu, yang intinya beliau suka menyisipkan pesan kepada buah hatinya yang masih pada fase anak-anak dalam bentuk cerita, bisa fabel, sirah nabawiyah, dll. Baiklah, aku akan mencobanya!
Kututurkan kisah tentang tupai yang tak ingin masuk sekolah. Padahal di hari itu, teman-temannya sedang asyik belajar membaca peta. Lalu setiap anak mendapatkan misi untuk membaca peta harta karunnya masing-masing.
Si Tupai asyik saja bermain sendiri, pokoknya dia ingin bebas hari itu, pikirnya. Dia terus bermain di hutan sendirian sambil mencari makanan. Namun, entah mengapa makanan yang dia cari seakan lenyap dari seluruh pandangannya. Hingga sore tiba, tetap saja nihil, dia tak menemukan yang dia cari.
Si Tupai bertemu dengan temannya saat perjalanan pulang. Dia ditanyai oleh temannya, mengapa wajahnya begitu muram dan mengapa dia tidak masuk sekolah hari ini. Setelah Tupai bercerita, temannya menjelaskan kalau tadi di sekolah dia belajar bersama untuk membaca peta harta karun. Kejutan! Ternyata harta karunnya berupa makanan yang sangat banyak, cukup untuk simpanan beberapa hari ke depan. Karena tidak tega pada si Tupai, temannya pun berbagi makanan dengannya dan mengajaknya untuk bersemangat belajar. Si Tupai pun menyesal karena sudah bolos sekolah. Dia bertekad untuk terus bersemangat belajar agar bertambah ilmunya dan bahagia. Tidak mau bolos sekolah lagi.
Aku tidak menyangka, tepat di ujung kalimat terakhirku berkisah. Anak sulungku berkata dengan penuh gelora. “Bunda, aku nggak jadi nggak sekolah, aku mau sekolah aja. Biar dapat ilmu. Aku udah bersemangat.” Masya Allah, alhamdulillah, sesederhana itu kebahagiaan seorang ibu.
Aku bahagia dan semakin tersadar bahwa komunikasi minim ngegas insya Allah akan lebih nyampe ke anak atau ke siapa pun. Karena ketika komunikan bahagia maka akan lebih mudah memproses pesan yang diterimanya. Begitu pun sebaliknya, ketika kita sebagai komunikator berucap model ngegas maka komunikan pun akan terbawa emosi negatif kita sehingga pesan yang diterimanya lebih sulit untuk dipahami atau dalam kata lain, membutuhkan lebih banyak waktu untuk mencernanya.
Ya Allah, tolong bantu kami untuk menjaga lisan ini. Tolong bantu kami menjadi orang tua yang semakin bersahabat dengan anak nggih. Yang membuat anak-anak nyaman ketika bersama kami, bukan menjauhi kami karena terbayang hal-hal yang membuat mereka tidak nyaman dengan ucapan atau perilaku kami. Allahumma aamiin..
Sama-sama semangat menjadi orang tua yang terus belajar dan memperbaiki diri ya bestie..
Big Huggg…
Malang
Jumat, 20 Januarui 2023
#Klip_Januari _2023_7

0 comments:
Posting Komentar