Alhamdulillah, kini saatnya menuntaskan misi 7 pada zona 3 program Matrikulasi batch 10 IIP dengan tema Piramida Ibu Profesional. Berikut adalah tugas saya, Rizki Anggarsasi Suwandari dari regional Malang Raya. Setiap misi, saya tulis di blog ini agar tidak tercerai berai dan bisa menjadi bekal saya kedepannya, juga reminder kala mulai kendor. Semoga juga bisa dipetik kebaikannya untuk yang membaca. Bismillah..
PETA MISI DIRI DAN KELUARGA
BELANJA PENGALAMAN BERSAMA HIMA REGIONAL
Pada misi 7 ini, ada tantangan untuk mempraktekkan Tacit knowledge atau belanja pengalaman. Kali ini dilakukan kepada para mahasiswi perkuliahan di IIP dari berbagai jenjang. Tujuannya untuk mendapatkan insight mengenai perkuliahan di IIP. Tacit knowledge ini saya dapatkan dari:
Sharing session yang diadakan oleh ketua dan pengurus HIMA regional Malang Raya beserta teman-teman seregional dari berbagai jenjang kelas di IIP (gambaran umum mengenai kelas-kelas di IIP)
Program HIMA regional Tapak Tilas yang setiap sesinya membahas perkuliahan di IIP setiap jenjangnya dan ditayangkan di live instagram Ibu Profesional Malang Raya @ibuprofesionalmalangraya (lebih detail tetapi tidak secara keseluruhan untuk menjaga curiosity teman-teman dalam mengikuti kelas-kelas di IIP secara langsung nantinya).
Berikut ini, resume dari 2 program yang sudah diikuti untuk belanja pengalaman.
Bunda Sayang
Bunda Sayang menggunakan gamifikasi Pantai Bentang Petualang. Berikutnya, ada sobatualang sebagai sebutan untuk mahasiswi. Durasi perkuliahan Bunsay adalah sekitar 6 bulan. Di kelas Bunda Sayang dibagi menjadi 2 kelompok awal, yaitu yang lulus dari matrikulasi langsung atau yang berjeda (dari matrikulasi tidak langsung melanjutkan kelas Bunda Sayang). Yang berjeda akan mendapatkan Pra-Matrikulasi mengenai CoC IP dll agar mendapatkan feel yang sama kembali. Yang terbaru, ada pengelompokan berdasarkan usia anak juga, yaitu anak-anak, remaja, single atau belum memiliki anak sehingga bisa saling mendukung.
Semua ilmu parenting dan kerumahtanggaan didapatkan di jenjang ini. Awalnya, masuk Bunda Sayang karena ingin belajar mengenai komunikasi produktif, tetapi ternyata setelah menjalani tahapan-tahapan di Bunda Sayang, yang didapat jauh lebih banyak dan bermanfaat untuk diri sendiri juga keluarga, khususnya dalam membersamai anak-anak dengan lebih menyenangkan.
Ada beberapa zona belajar di jenjang Bunda Sayang. Di setiap zona, mahasiswi boleh memilih partner dalam menyelesaikan setiap tantangan yang diberikan. Partner bisa pasangan, anak, orang tua atau teman. Sedangkan tantangan setiap zona dilaksanakan selama 12 hari berturut-turut. Jika mengerjakannya secara konsisten, tanpa rapel maka akan mendapatkan badge OP (Outstanding Performance). Apa saja zona belajar yang ada di Bunda Sayang?
Manajemen Gadget
Memanajemen grup dan medsos
Meminimalisir file-file tidak berguna yang tersimpan
Bahagia di Setiap Tumbuh Kembang
Mahasiswi diajak untuk belajar mengobservasi anak untuk mengetahui kelebihan dan kekurangannya dengan cara membuat jurnal stimulus lalu melaksanakannya dalam bentuk beraktivitas bersama, kemudian menuangkannya ke dalam jurnal emotional check in.
Ada kata-kata mutiara Bu Septi yang melekat dan menjadi reminder dalam membersamai anak.
“Bahagia itu bukan segala sesuatu yang harus berjalan dengan benar melainkan bagaimana kita bisa merespon segala kejadian dalam hidup kita dengan mindset yang baik”
Komunikasi Produktif
Pada zona ini narasumber memilih suami sebagai partner. Kalau sebelumnya, minta tolong sama suami harus saat itu juga dilakukan. Maka, setelah mengikuti kelas BunSay jadi belajar mengenal kesukaan suami dan kondisi suami saat akan diajak ngobrol agar ketika diajak ngobrol suami lebih siap dan narasumber menjadi lebih legowo kalau pun suami sedang tidak dalam kondisi siap membantu/ diajak ngobrol.
Ada 3 kata ajaib yang ditanamkan, yaitu ‘maaf, tolong dan terima kasih’. Komunikasi itu memiliki seni agar maksud kita bisa sampai dengan baik dan nyaman, bukan dengan kode-kode yang sulit diinterpretasikan.
Kita Semua adalah Bintang
Di zona ini mahasiswi bisa memilih partner seperti sebelumnya ataupun diri sendiri. Lalu diajak untuk mengetahui kelebihan dan kekurangan sehingga bisa meregulasi keinginan dan tujuan kedepannya. Nantinya akan bermuara pada menumbuhkan kepercayaan diri bahwa semua adalah bintang.
“Allah tidak pernah menciptakan produk gagal. Anak-anak itu terlahir hebat. Kitalah yang harus memantaskan diri agar selalu dinilai layak oleh Allah dalam memegang amanah anak-anak yang luar biasa.”
“I am not perfect but I am special and limited edition”
Keterampilan Literasi
Membuat project bersama partner untuk menumbuhkan cinta dan keterampilan literasi.
Pendidikan Seksualitas (ikuti kelasnya biar tahu dan merasakan sendiri serunya)
Family Project (ikuti kelasnya biar tahu dan merasakan sendiri serunya)
Yang dirasakan perubahan setelah mengikuti Bunda Sayang adalah ngomong sama anak-anak lebih lembut dan ‘nyampe’ pesannya, belajar lebih percaya diri dan lebih sayang dengan sekitar.
II. Kelas Bunda Cekatan
Di IIP itu seru banget belajarnya. Gamifikasi yang dipakai benar-benar bisa membuat berbinar-binar dan terus semangat untuk belajar dan menyelesaikan setiap misinya. Berbeda dengan ketika sekolah, saat menemui subjek yang tidak disukai. Di IIP kita melakukan semuanya secara bertahap dan berkelanjutan dengan pengkondisian belajar yang menakjubkan. Lingkungan yang dibangun sungguh membuat vibes positif makin kerasa dari tahap satu ke tahap berikutnya. Terasa seru sehingga membuat tidak lesu dan terpaksa belajar. Karena hakikatnya belajar di IIP adalah menjawab kebutuhan diri.
Di kelas Bunda Cekatan menggunakan gamifikasi Hutan Kupu-Kupu Cekatan. Proses belajarnya mengadaptasi metamorfosis kupu-kupu, yaitu fase telur-telur, ulat, kepompong dan kupu-kupu.
Fase Telur-telur
Fase ini dilaksanakan selama 4 pekan dan dibagi menjadi 4 tahap, yaitu:
Telur Hijau
Mencari kegiatan yang disukai dan bisa untuk dijadikan patokan kedepannya untuk diasah agar cekatan di bidang tersebut
Telur Merah
Memaknai kegiatan yang disukai
Telur Oranye
Menentukan tujuan dan dan sumber ilmu yang akan digunakan nantinya
Mindmapping
Membuat peta belajar sebagai pedoman untuk tahapan-tahapan selanjutnya
Fase Ulat
Seperti ulat pada kehidupan nyata, ulat Bunda Cekatan juga melahap sebanyak-banyaknya. Dalam hal ini yang dimaksud adalah ilmu. mahasiswi dapat mencari sumber ilmu yang ada di Hutan Kupu-kupu Cekatan, tetapi jika tidak ada, boleh mencari di luar dengan catatan sesuai dengan peta belajar yang dibuat.
Fase Kepompong
Berpuasa dari melahap ilmu dan hal-hal yang bisa menghambat belajar selama proses menjadi kupu-kupu cekatan. Mahasiswi juga mendapatkan tantangan untuk melatih dan mengasah skill yang telah dipilih sebelumnya selama 30 hari berturut-turut lengkap dengan jurnal hariannya.
Fase Kupu-kupu
Menebar ilmu yang telah ditekuni selama fase kepompong
III. Bunda Produktif
Di BunPro, mahasiswi ‘dipaksa’ untuk lebih produktif dengan apa yang sudah dimiliki. Yang nantinya akan takjub pada diri sendiri ‘Ehh, aku bisa loh ternyata gini’. Kuncinya mau berusaha dan mencoba hal-hal baru dengan sungguh-sungguh maka akan menemukan berlian di dalam diri sendiri.
Di jenjang inilah, narasumber merasa berhutang budi pada IP, lalu meniatkan bahwa saat itu adalah waktu yang tepat untuk bisa mengambil peran di institut. Sehingga ketika mendapatkan tawaran, beliau mengambilnya (walaupun sempat ragu lalu berdiskusi dengan suami). Ini adalah wadah untuk belajar beliau dan menggali 5 tahun ke depan mau jadi seperti apa, ditentukan dari sekarang (saat itu). Akhirnya, beliau memutuskan untuk berani mengambil peran. Ternyata, banyak sekali yang dipelajari ketika peran tersebut dijalani.
IV. Bunda Shaliha
Di BunSal, mahasiswi ditantang untuk menjaring masalah dan memikirkan aksi nyata sebagai bagian dari solusi. ‘Jadilah bagian dari solusi, bukan bagian dari masalah!’
Menurut narasumber, sebenarnya banyak yang lebih hebat tetapi keberhasilan hidup yang dirasakan narasumber, besar karena perkuliahan di IIP dan Bu Septi sehingga merasa terpanggil untuk berbagi. Bunda Shaleha itu penuh perjuangan dan surprise dari Bu Septi dan tim Bunda Shaleha yang keren-keren. Tantangannya adalah membangun kota virtual yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya, tetangganya adalah warga yang se-passion, membuat kita fokus ke passion kita. Saat itu pandemi sedang parah jadi apa yang bisa dilakukan dari rumah, sesuai tagline-nya “Dari Rumah untuk Dunia”.
Passion narasumber adalah bidang pendidikan. Beliau memberanikan diri untuk mendirikan rumah main anak karena melihat kondisi anak-anak di sekitaran perumahannya yang semakin tidak kondusif. Project tersebut direalisasikan bersama adik-adiknya sebagai anggota tim. Karena anggota tim project di BunSal bisa dari member IIP maupun non IP. Program rumah main tersebut antara lain tour de talent, kelas mengaji+ (ditambah dengan kegiatan yang menunjang fitrah anak-anak), playdate, kelas motorik serta talkshow yang menggandeng ahli-ahli parenting.
“Ada nggak sih momen 'aku pingin nyerah deh'.. Lalu apa yang bikin bangkit kembali?” Ada! Manajemen waktu yang perlu terus diperbaiki. Juga inspirasi dari teman-teman leader di co-housing yang sibuk banget tapi bisa selalu on time. Dan value ini benar-benar melekat hingga berkegiatan di luar IP. Di co-housing banyak orang yang hebat jadi terasa terpacuh untuk terus belajar. Usia Bu Septi jauh di atas para mahasiswi secara umum, tetapi beliau sangat update teknologi terbaru.
V. Ekosistem
Khusus untuk leader yang sudah selesai di BunSal bisa mengikuti seleksi untuk masuk ekosistem (ditinjau dari jurnalnya). Di ekosistem kegiatannya melanjutkan yang telah dibuat di BunSal. Tujuan dan milestone yang diambil juga akan dilanjutkan di ekosistem ini. Sudah tidak ada kelulusan lagi, tetapi kembali ke pribadi masing-masing untuk kebutuhan belajar yang berkelanjutan, malu ke diri sendiri, sudah memutuskan masuk ke ekosistem tetapi tidak mau lanjut belajar, apalagi berkumpul dengan para leader yang keren.
Berawal dari background narasumber sebagai pengurus regional bagian media dan komunikasi membuat desain visualisasi sangat dibutuhkan beliau untuk berkomunikasi tetapi beliau menemukan tantangan karena tidak memiliki background desain sebelumnya sehingga dibuatlah wadah belajar untuk para designer pemula dengan alat yang dipunya dan aplikasi gratis.
Kalau dulu ditanya kerjanya apa, jawabnya ibu rumah tangga dengan perasaan minder, kalau sekarang dengan lebih percaya diri dan lebih tahu saya itu siapa-kelebihan diri-kekurangan diri-bisanya apa. Selesai perkuliahan bukan berarti sempurna malah berasa lebih pinter teman-teman yang masih aktif kuliah. Di ekosistem itu ritmenya tidak sederas saat di perkuliahan.
Ada juga Coworking-space yang melahirkan banyak komunitas baru binaan IP. Ekosistem dan Coworking-space ini adalah tempat ‘nyemplung’ ke dunia nyata, saatnya beraksi untuk bangsa.
Tambahan:
Core value yang ditularkan oleh Bu Septi dan IP terbawa hingga keluar IP. Awalnya tertempa lalu menjadi kebiasaan baik, salah satunya adalah on time.
Ilmu yang didapat di IP itu aplikatif jadi bukan hanya teoritis. ‘Value-nya terasa tidak hanya di atas kertas’ –audience
Bergabung di IP adalah nikmat yang luar biasa, patut disyukuri karena kita punya kesempatan dan kemauan belajar. Dan kalau bisa bersabar kelak setelah 3 atau 4 tahun akan terasa perubahan dan manfaatnya dan akan menular pada keluarga. Misalnya pengalaman moderator, bisa berkomunikasi dengan leluasa dan terbuka dengan anak-anaknya yang lintas usia. Semua itu melalui proses dari kelas-kelas IIP yang dijalani dan berusaha menyelaraskannya sehingga hidup terasa lebih ringan.
Kalau kata Bu Septi:
Selanjutnya berdampaknya dilanjutkan di kehidupan nyata. Pada setiap tahap selalu terdapat 5 core value, tetapi lebih intens salah satunya di setiap kelas.
Kuliah di IIP selalu seru setiap batch-nya, bahkan ketika mengulang kelas, karena selalu ada yang baru, baik gamifikasi maupun kurikulumnya.
Pentingnya belajar leadership akan terasa saat anak semakin ‘gede’ karena anak melihat dan merasakan perubahan ibunya, kalau kata Bu Septi, ibulah yang akan menularkan mindset ‘change maker’ ke anak.
Beberapa narasumber juga merupakan pengurus IP regional. Bagi saya, mereka keren masyaallah. Di sela-sela aktivitas perkuliahan dan kehidupan pribadi, mereka bisa berkontribusi untuk komunitas tercinta. Besar alasan mereka karena untuk berterima kasih IP sudah hadir sebagai media tumbuh mereka. Jujur saya merasa penasaran bagaimana mereka mengatur waktunya. Satu diantaranya menjawab karena yang dijalankan semuanya beririsan, saling berkaitan juga karena bekerja secara tim. Menjadi pengurus adalah bagian dari praktek ilmu yang didapat juga sebagai media belajar, 2 hal yang beriringan. Menjadi pengurus juga ada keuntungannya lagi yaitu networking, dan bisa merasakan program enrichment khusus untuk para pengurus dengan berbagai narasumber yang mumpuni di bidangnya.
—----------------------
Dari yang sudah didapat, sangat terasa bagaimana serunya belajar di IIP. Teknologi yang selalu update, kurikulum yang terus diperbarui, juga lingkungan produktif dan positif yang terbentuk begitu memacuh saya untuk terus belajar. Walaupun kadang kondisinya tidak mulus, tetapi saya yakin kesungguhan, komitmen yang ditempa untuk bisa dilakukan secara konsisten akan menjadi bekal istimewa untuk tahapan hidup yang menanti insyaAllah.
Saya memberanikan diri mencoba playground yang baru bagi saya selain menyelam di Samudra Amarta Matrikulasi, yaitu magang menjadi pengurus HIMA bagian media dan komunikasi dan ikut serta menjadi panitia Jelajah Cita-Cita #3 IPMR. Awalnya, terasa sekali adaptasinya. Namun, saya yakin kalau saya bersungguh-sungguh saya bisa menjadi versi diri yang lebih baik lagi daripada sebelumnya. Alhamdulillah, bertahap saya bisa beradaptasi dan membentuk ritme baru yang bisa saya nikmati. Walaupun pasti, tetap butuh belajar terus memperbaiki diri dari berbagai sudut.
REFERENSI PENGETAHUAN EKSPLISIT YANG SAYA DAPAT ADALAH
Setelah membaca kembali materi yang diberikan untuk misi 7 ini, juga membaca website IbuProfesional.com, InstitutIbuProfesional.com, dan IbuPembaharu.com serta menyimak postingan di instagram @IbuProfesionalMalangRaya, saya membuat resume secara garis besar sebagai berikut, selain menuangkannya ke dalam bagian Tacit Knowledge karena saling berhubungan dan mengisi.
PIRAMIDA IBU PROFESIONAL
credit by: reisha.net
Piramida IP dibuat oleh Pak Dodik Mariyanto, suami Bu Septi yang akhirnya dari sinilah gagasan IP muncul. Bu Septi menerjemahkannya dalam sebuah gerakan revitalisasi makna ibu yang dimulai sejak 2011.
Sebagaimana misi Rasulullah saw. Yaitu untuk menyempurnakan kemuliaan akhlak manusia. Maka segala aktivitas pendidikan di semua keluarga dan komunitas sudah selayaknya menuju kepada satu misi tersebut. Demikian juga piramida atas dan bawah yang dibuat oleh Pak Dodik ini, bermuara pada akhlak mulia.
Piramida Atas
Modal utama menjadi Ibu adalah kemauan dan kesungguhan. Mau belajar, mau mengembangkan diri, mau mendidik anak-anak dan mau memantaskan diri agar layak mendapatkan amanah anak-anak hebat.
Kesungguhan belajar para ibu akan membuat kembali memiliki kemampuan dalam mendidik anak dan mengembangkan bakat sesuai fitur unik yang dibawa sejak lahir. Karena sejatinya kemampuan ini naluriah. Namun, kemampuan ini semakin menurun seiring dengan pasrahnya para ibu atas pendidikan anak-anaknya kepada pihak lain seutuhnya, hingga pendidikan keluarga pun mulai lenyap.
Setelah mendidik anak dengan baik, selanjutnya ibu harus mulai meningkatkan keterampilan dalam mengelola diri, keluarga dan segala aktivitasnya di ranah publik.
Ketika tahapan-tahapan ini dilakukan dengan sangat baik maka kepercayaan diri ibu pun ikut meningkat. Lalu menumbuhkan mental yang sehat dan senantiasa bahagia bagi anak-anaknya.
“Ibu yang mendidik anak dan mengelola keluarga dengan mental sehat dan bahagia akan semakin menyempurnakan akhlak mulia bagi dirinya dan keluarganya”.
Konsep piramida atas ini diterjemahkan Bu Septi menjadi dasar pembuatan kurikulum program Bunda Sayang dan Bunda Cekatan. Dasar konsep inilah yang akan memunculkan ide pentingnya "capacity building system" yang dibangun melalui forum belajar yang dinamakan "Institut Ibu Profesional".
Piramida Bawah
"Bersungguh-sungguhlah kamu di dalam, maka kamu akan keluar dengan kesungguhan itu, tidak ada hukum terbalik".
Ketika para ibu mulai memasuki ranah produktif. Maka, para ibu mulai berproses untuk menemukan dirinya, menentukan visi hidupnya dan menemukan misi penciptaan dirinya di muka bumi ini, dengan cara menjalankan aktivitas yang membuat matanya berbinar-binar (passion). Sehingga muncul semangat yang luar biasa dalam menjalani dan tetap menempatkan keluarga juga anak-anak sebagai prioritas utama. Selanjutnya ibu memaknai semua aktivitas sebagai proses menjemput rezeki.
Gerakan Ibu Profesional akan merevitalisasi makna ibu, peran ibu akan menjadi sangat berarti bagi semua perempuan. Selanjutnya menjalani peran ibu bukan lagi sebagai sebuah keterpaksaan dan pengorbanan melainkan sebuah PILIHAN yang luar biasa.
Pendidikan dan pelatihan untuk para Ibu Profesional menjadi fokus utama kegiatan komunitas. Membangun kapasitas adalah salah satu bagian dari proses memantaskan diri.
Selanjutnya, cita-cita pengembangan sarana IP akan memunculkan jaringan kemandirian perempuan Indonesia, baik yang tinggal di dalam maupun luar negeri. Gerakan ibu sebagai agent of change pun akan semakin besar dan bisa memberi harapan pada bangsa sebagai bangsa yang berakhlak mulia karena hadir generasi yang telah dididik oleh Ibu Profesional.
Konsep piramida bawah ini diterjemahkan Bu Septi sebagai dasar pembuatan kurikulum Bunda Produktif dan Bunda Shaleha. Konsep piramida bawah ini juga memunculkan adanya ‘community building system’ yang dibangun melalui manajemen Komunitas Ibu Profesional.
"Mendidik satu ibu sama dengan mendidik satu generasi"
PLAYGROUND IIP
Ada banyak playground yang merupakan jenjang perkuliahan maupun pelengkapnya di Institut Ibu Profesional. Berjenjang artinya harus menyelesaikan (lulus) setiap jenjangnya baru kemudian boleh melanjutkan ke jenjang berikutnya. Perkuliahan di IIP dikemas menggunakan gamifikasi yang berbeda di setiap jenjangnya.
credit by: institutibuprofesional.com
Pertama, di Pulau Harmoni terdapat Selasar di Pulau Harmoni sebagai rumah utama dan Transcity yang merupakan tempat transit bagi para mahasiswa yang sedang menunggu kelas berikutnya maupun sedang cuti. Transcity dipimpin oleh seorang walikota. Di sini terdapat Hotel Bahagia (member yang menunggu, cuti, remedial atau gugur dari kelas Matrikulasi), Hotel Mentari (--kelas Bunda Sayang), Hotel Asyik (--kelas Bunda Cekatan), Hotel Cemerlang (--kelas Bunda Produktif), Hotel Tentram (--kelas Bunda Shaleha) juga terdapat Pelabuhan Matrikulasi.
Juga terdapat Jendral Benteng Strat de Harmoni yang ditemani oleh Letnan InDev de Harmoni dan Letnan MonEv de Harmoni sebagai divisi perbaikan dan pembaruan kurikulum.
Melalui Pelabuhan Matrikulasi, mahasiswi diajak untuk menyelami Samudra Amarta Matrikulasi untuk melalui program persiapan yang bertujuan untuk membuka wawasan, menyamakan frekuensi para ibu pembelajar, calon Ibu Profesional.
Selanjutnya menuju Pulau Cahaya, yang dipimpin oleh Malika (direktur pendidikan IIP). Wilayah ini dibagi menjadi 4 yaitu:
Pantai Bentang Petualang (Bunda Sayang) yang dijaga oleh Manika
Hutan Kupu-Kupu Cekatan (Bunda Cekatan) yang dijaga oleh Magika
Kota Produktif Hexagon City (Bunda Produktif) yang dijaga oleh Mardika
Kampus Ibu Pembaharu (Bunda Shaleha) yang dijaga oleh Mantika
Malika juga ditemani oleh Madame Maurina, Madame Mauriqa, Madame Kuri (buncek), Madame Puri (bunprod), Madame Suri (bunsal) untuk merancang petualangan yang seru di Pulau Cahaya.
Mahasiswi kelas Bunda Sayang adalah mereka yang telah lulus dari program Matrikulasi. Di sini, para mahasiswi diajak untuk terus belajar bagaimana mendidik anak dengan mudah dan menyenangkan.
Selanjutnya, setelah lulus dari kelas Bunsay, mahasiswi bisa melanjutkan jenjang perkuliahan ke kelas Bunda Cekatan. Di kelas ini akan dilatih untuk meningkatkan kapasitas diri sebagai seorang manajer keluarga yang cekatan menjalankan peran.
Berlanjut ke kelas Bunda Produktif, mahasiswi akan dilatih untuk memahami potensi diri, menemukan jalan hidup sesuai fitur uniknya, sehingga antara mendidik anak, berkarya dan menjemput rezeki menjadi satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan apalagi dikorbankan.
Setelah kelas Bunpro, mahasiswi bisa melanjutkan ke kelas Bunda Shaliha (Ibu Pembaharu). Di kelas ini akan dilatih untuk bisa menjadi agen perubahan di masyarakat sekitarnya, dimulai dengan perubahan diri sendiri dan perubahan di dalam keluarganya secara berkelanjutan.
Ada beberapa tahapan untuk Ibu Pembaharu, yaitu identifikasi masalah, pahami masalah, identifikasi aksi, ApresiAksi, temukan teman, pilih tujuan, saatnya beraksi, rayakan solusi.
Ada juga training trainer dan fasilitator yaitu program untuk para mahasiswi yang sudah lulus jenjang Bunsay, Buncek, Bunpro dan Bunsal.
Setelah dari menyelesaikan jenjang perkuliahan di Pulau Cahaya, para warga diajak menyeberang ke Kepulauan Rahayu yang merupakan area terluas di IIP, terdiri dari 58 pulau (regional) yang dipimpin oleh KaHIMA.
SETELAH MENCARI LITERATUR MENGENAI IIP, INI PETA MISI SAYA DI IIP