Sabtu, 12 September 2015

Ikan Lele Kuah Manis Asam Pedas

Hai kawan, lama tak update blog ini, terutama posting resep ya :D

Ok, yuk capcus. Hari ini aku bangun pagi-pagi, teringat akan proyek yang belum kelar jadi nggak enak mau balik tidur. Akhirnya,lanjutin proyek dan setelah beberapa jam kemudian …….. perut keroncongan hehehe. Ingat di kulkas ada lele, ibu dikasih lele banyak sama om Samud kemarin lusa. Pengen masakan ikan yang seger, manis dan asem. Dimasak apa ya? Aku ini sebenernya masih kagok di dapur, jadi kadang-kadang aja kalau lagi dapat hidayah baru tuh rasa masakanku enak wkwkw. Mau jadi ibu muda kok nggak bias masak :P

Geledah isi kulkas dan dapur, nemu cabe merah, cabe kecil, tomat, asam, merica, cuka, terasi, gula dan garam pastinya. Ok, mari kita eksekusi lele-lele ini menjadi masakan yang berkuah segar nyamnyamnyam. Sebagai calon ibu muda modern, ceileh ngakunya padahal mau bilang kalau butuh resep kadang-kadang aku googling hha. Lihat di webnya resepmasakankreatif.com dan JTT, setelah ditimbang-timbang dan bahan yang memadai lebih ngarah ke JTT, ya sudah aku buatlah Lele Asam Manis Pedas dengan bumbu yang sedikit aku modif. Aslinya mbak Endang – pemilik website Just Try and Taste – pakai ikan Kuwe.
Sebelum aku masak, ikan lelenya aku marinade dulu pakai cuka makan, garam dan merica. Habis beli jeruk nipis hasilnya nihil, yauda sedikit cuka jg nggak apa-apalah. Prolognya udah ngalor-ngidul ya, sekarang langsung ke resepnya aja ya, yuk mari:

Bahan :
  • Ikan Lele 4 atau 5 ekor ukuran sedang
Bumbu Marinade :
  • Cuka 1 ½ sdm
  • Garam 1/3 sdt (soalnya kalau kebanyakan ikannya jadi asin)
  • Merica seujung sdt
  • Air secukupnya
  • Bumbu yang Dihaluskan :
  • Bawang Merah 6 buah
  • Bawang Putih 3 siung
  • Cabe Merah 3 buah
  • Cabe Kecil 3 buah
  • Terasi 1 ½ sdt (pakai yang enak)
  • Merica bubuk ½ sdt
  • Jahe 1 ruas jari
  • Kunyit 1 ruas jari
Bumbu Cemplung :
  • Air ± 400ml
  • Gula 2sdm
  • Garam 2 1/3 sdt
  • Serai 1 batang, digeprek
  • Daun Jeruk 2 lembar
  • Air Asam Jawa 4 sdm (jangan lupa disaring biar bersih)
  • Tomat 2 buah ukuran sedang, potong @ 4 buah
  • Daun Kemangi segenggam tangan


Cara Membuat :
  1. Marinade ikan lele : campurkan bahan marinade, aduk rata, masukkan ikan hingga semua bagian terlumuri. Biarkan sekitar 15-20 menit.
  2. Remas-remas ikan hingga keluar lendirnya, cuci hingga lendirnya hilang.
  3. Haluskan bumbu, kemudian tumis dengan sedikit minyak hingga harum dan berubah warna.
  4. Beri blender atau cobek sedikit air untuk mengambil sisa bumbu halus yang menempel di dindingnya.
  5. Masukkan air tersebut ke dalam tumisan bumbu halus, tambahkan sisa air.
  6. Masukkan serai, daun jeruk, dan gula.
  7. Biarkan hingga ikan setengah matang.
  8. Masukkan air asam dan tomat.
  9. Setelah matang, matikan api lalu masukkan garam dan daun kemangi.


Catatan :
  • Ikan kuah ini rasanya segar, perpaduan antara manis dan sedikit asam ditambah wanginya daun kemangi yang menggugah selera. Aku termasuk pemula di dapur, tapi beneran mantap masakan ini.
  • Pastikan bahan-bahannya dicuci hingga bersih terlebih dahulu ya, kecuali air, gula, garam, merica dan terasi :D
  • Memasukkan garamnya di akhir urutan saja karena kata mertua (aamiin) biar yodiumnya nggak hilang banyak, tapi kalau ibuku biasa memasukkan saat penumisan, kalau aku waktu masukin air hehe, itu pilihan.
  • Pilih ikannya yang banyak dagingnya, soalnya bakalan kurang-kurang dan kurang hehe.
  • Untuk marinade bias ditambahkan bawang kalau sensitive sama bau amis, tapi tadi aku masak seperti bumbu di atas udah nggak amis kok.
Itu tadi ya resepnya, selamat mencoba, wanita pasti bisa masak kata budheku, hanya saja perlu diasah bakat itu :)

Malang, 21 Maret 2015

Sabtu, 21 Maret 2015

Mari Bersyukur

Tadi waktu di jalan tiba-tiba terlintas pikiran pengen punya gaun, namanya juga wanita :D sudah kepala 2 belum punya baju untuk kondangan ya masih adalah namanya kepengenan :P Eh terlihat seorang Bapak yang membawa dua tumpuk keset sedang menjajakan dagangannya. Langsung bilang ke diri sendiri, boro-boro beli gaun, itu Bapaknya masih butuh uluran tangan kita (akan jauh lebih bermanfaat jika disalurkan pada mereka yang membutuhkan, walaupun sesekali juga boleh hehe).

Sepertinya, aku mengenal sosok itu. Ternyata benar, beliau adalah Bapak penjual keset yang sama dengan yang aku temui di depan SOB. Seorang Bapak yang berkata padaku "Lha bagaimana lagi mbak, namanya juga demi anak istri". Rumah beliau di Pandaan jadi untuk menghemat pengeluaran, beliau tidur di depan rumah kosong atau toko tutup dan baru akan pulang ketika kesetnya habis atau pendapatannya cukup untuk beli beras. Bajunya sudah tak terlihat lagi model krahnya dan lipatan-lipatan kulit di bahunya itu menandakan bahwa beliau sudah lama memikul beban yang berat itu (mengingatkan pada ayahku yang juga biasa mindah berkarung-karung gabah, semoga kalian selalu dilimpahi Allah kesehatan aamiin).

Malamnya ketemu anak perempuan yang berkeliling untuk menjajakan gorengan, jagung rebus, kolak dan kue. Sudah menjadi kebiasaanku bertanya ini itu kepada pedagang yang kutemui, maaf bukan berniat kepo tapi itu bisa menjadi pelajaran manis untukku. Seperti adek ini contohnya, mengajariku untuk terus bersyukur dan tidak mudah menyerah begitu saja. Adek ini masih kelas 3 SD tapi sedari ashar hingga sekitar jam 9 malam menjajakan kuenya. Kapan waktunya dia belajar dan bermain?

Teringat kata temanku yang bilang kalau adek ini menaruh dagangannya di dekatnya seraya dia menggambar sesuatu di tanah. Mungkinkah cita-citanya? Oh Tuhan beri dia kemudahan untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik dan bertambahlah syukurnya, aamiin. Adek ini pernah bercerita - ketika seorang ibu menanyainya - kalau dia 3 bersaudara, ibunya bekerja menjadi asisten rumah tangga, sedangkan ayahnya sudah menikah lagi. Bayangkan, adek ini masih kelas tiga tapi sudah mengalami realita semacam itu. Sungguh malu ketika aku bilang, "aku lelah". 

Alhamdulillah hidupku berkecukupan. Sejak kecil ayah dan ibuku mengajariku mandiri, selain memang keadaan waktu itu yang harus "tirakat". Jaman TK membuat wayang-wayangan dari kertas yang diajarkan ayah yang kemudian aku jual @Rp 100,- waktu itu, biar bisa beli jajan. Ketika di sekolah dasar aku membantu ibu dengan jualan rujak manis di sekolah yang dibuat ibuku. Waktu liburan sekolah, aku pinjam buku ke kakak2 kelas biar bisa mengikuti pelajaran dengan lancar tanpa harus memeras keringat ayah ibuku lebih banyak lagi untuk membeli buku paket, kemudian aku cocokkan halamannya, aku tulis satu persatu biar enak waktu dipakai. Karena tiap tahun halamannya akan berubah, tapi isinya jarang sekali ada perubahan drastis, mungkin hanya 1 atau 2 halaman saja yang berubah sehingga mempengaruhi urutan halaman yang lain.

Uang saku Rp 200,- atau Rp 300,- rupiah itu sudah syukur, kalau ada yang kasih lebih, alhamduLillah hehe. Hingga setelah lulus SMK,biar bisa kuliah aku nyambi kerja dan cari beasiswa. Tapi sungguh Maha Penyayang Allah yang selalu memberiku jalan untuk mensyukuri nikmat-Nya. Saat hatiku mulai gundah atau merasa lelah, Allah mengirimiku malaikat seperti mereka, sehingga NGGAK ADA ALASAN untuk nggak bersyukur dan menyerah begitu saja. Terima kasih ya Allah, segala puji bagi-Mu, Tuhan semesta alam :)

*tulisan ini sengaja saya publikasi agar kita bisa mengambil hikmah, belajar dan menjaga rasa syukur kita, insyaAllah, semoga tidak ada sebersit niat takabur dihati saya aamiin, semoga bermanfaat :)


Malang, 16 Maret 2015