Sabtu, 03 Mei 2025

Apresiasi Sekolah untuk Mas Fatih: Santri Terdisiplin dalam Muroja'ah

Mataku lengket sekali, ternyata hutang tidurku belum lunas. Saat menyimak Mas Fatih muroja'ah ba'da subuh, aku berkali-kali disenggol Mas Fatih karena kesliut aka ketiduran sebentar. 

Sebelum ke sekolah Mas Fatih, aku menyempatkan masak satset dengan menu sederhana. Dilanjutkan membuat jenang grendul atau biasa disebut bubur candil. Menu favorit suami dan Adek Syifa. Namun, setelah berkali-kali menambahkan air rebusannya, entah kenapa dia tetap saja tidak mau matang. Akhirnya aku pun pasrah. Baru sorenya aku tahu kalau ternyata tepung yang aku ambil tadi adalah tepung beras. Seharusnya tepung ketan. Akhirnya, aku membuat lagi menggunakan tepung ketan. Dari situlah aku jadi tahu perbedaan tekstur bubur candil yang menggunakan tepung ketan dan tepung beras. Yang menggunakan tepung ketan bisa kenyal lembut, sedangkan yang menggunakan tepung beras cenderung agak keras. Apalagi karena adonan yang pertama --memakai tepung beras -- tadi kurasa kurang cairan. 

Alhamdulillah sesi kedua cukup berhasil. Sudah jadi bubur candil yang semestinya hehehe. Kenyal grendul yang dibalut bubur kental didampingi manis lembut gula kelapa yang dipadu dengan gurihnya santan kental. Masya Allah perfecto! Walaupun sebenarnya aku masih meraba-raba kalau ini masih bisa ditingkatkan cita rasanya biar lebih kompleks dan jatuh cinta pada kecap pertama seperti saat membuat formula kue-kue andalanku.

Sambil membuat bubur sesi kedua, aku masih terngiang-ngiang sesi konsultasi proses belajar Mas Fatih di sekolah. Para asatidz memberikan apresiasi untuk Mas Fatih sebagai siswa terdisiplin dalam muroja'ah. Masya Allah, terima kasih ya, Nak. Semoga Allah senantiasa memberikan rasa cinta kepada-Mu terhadap agama Allah ini, juga kepada Qur'an pedomanmu dan Rasulullah teladanmu. Allahumma aamiin.

Tadi, Ustadzah juga menyampaikan kalau Mas Fatih tidak ada catatan buruk. Alhamdulillah, saat muroja'ahnya pun semangat, tanggung jawab dan usaha untuk bisa semakin tumbuh. Mas Fatih juga termasuk anak yang bijaksana -- masya Allah, kami bersyukur sekali diberi Mas Fatih. 

Ustadzah juga sempat bertanya aku aktivitasnya apa kok bisa membersamai Mas Fatih dan Adik Syifa penuh -- bersama ayahnya. Aku sampaikan kalau kesibukanku di luar keluarga hanya berjualan brownies panggang dan bergabung dengan komunitas-komunitas saja. Beliau menilai aku bisa membagi waktu dengan baik. Namun, aku justru jadi melongo. Seakan langsung merefleksi impian beberapa tahun yang lalu. 

Di saat itu aku merasa insecure, merasa belum melakukan yang terbaik dalam membersamai anak-anakku. Dan di saat itu juga aku mempunyai mimpi, kelak Sashi adalah ibu yang bahagia dalam aktualisasi diri juga dalam membersamai suami dan anak-anakku. Kelak aku akan menjadi wanita yang memberi manfaat tanpa meninggalkan tanggung jawabku yang utama. Insya Allah.

Benarkah mimpi itu terwujud satu per satu? Masya Allah, begitu indah jalinan takdir yang Allah semai untuk kami. Seni komunikasi yang Allah hadirkan untuk keluarga kecil kami sungguh nikmat Allah yang besar. Diberi kondisi sefrekuensi dengan pasangan itu adalah kemudahan besar bagi kami. Alhamdulillah, ayahnya menyadari bahwa pembiasaan disiplin dengan pemahaman itu penting untuk anak dan harus dilakukan bersama. Dimulai dari orang tua sebagai teladan nyata. Bukan menyuruh, melainkan memberikan contoh dan mengajak. Bertahap dari level teringan lalu bertambah sesuai perkembangannya.

Alhamdulillah, bulan Ramadan kemarin anak-anak jadi terbiasa bangun untuk sahur, sholat subuh dan muroja'ah ba'da subuh. Alhamdulillah, kebiasaan ini berlanjut hingga saat ini. Rasanya Allah memberikan kemudahan pembiasaan yang baik-baik dengan hadirnya Ramadan. Masya Allah. Sehingga saat sekolah uji coba metode baru, yaitu setoran voice note muroja'ah untuk mengontrol pembiasaan muroja'ah di rumah, Mas Fatih sudah memulai lebih awal. 

Saat sosialisasi mengenai voice note ini, sejujurnya aku sudah ingin menyampaikan keberatanku. Karena menurutku, biarkan anak-anak menikmati mencintai Al Qur'an dengan caranya yang menyenangkan, bukan paksaan. Namun, ustadz meyakinkan untuk mencobanya sebulan dahulu lalu akan di-review bersama. Qodarullah Mas Fatih kooperatif dan semangat, barokallah Nak. Kita sama-sama semangat belajar dan berjuang ya, Nak. Semoga senantiasa dibimbing Allah hingga berpulang kepada-Nya dalam keadaan diridhoi Allah dan kondisi terindah. Allahumma aamiin.


Malang

Sabtu, 3 Mei 2025

0 comments:

Posting Komentar