Senin, 19 Mei 2025

Menilik Hati Lagi setelah Ombak Besar

Alhamdulillah hari ini aku merasa jauh lebih baik. Bukannya ke-PD-an tapi karena suasana hatiku yang jauh membaik dibandingkan puncaknya 2 bulanan lalu.


Ramadan kemarin aku merasa sangat produktif. Di tengah kesibukanku produksi hampers kue kering dan brownies panggang, aku masih ok menjalani keseharianku. Tapi, setelah Idul Fitri rasanya semuanya berubah. Saat anak-anak masih liburan, aku pun merasakan semuanya santai. Setelah anak-anak masuk sekolah, entah kenapa aku masih saja tidak bisa beradaptasi seperti biasanya.

Sejak itu rasanya makin hampa, makin ada yang hilang tapi aku belum menyadari itu apa. Aku pun jadi lebih sensitif. Biasanya ketika ada sesuatu di keluarga besar, efeknya nggak sedasyat kali itu. Semakin bertambahnya input, semakin aku oleng.

Aku pun ngobrol dengan suami, lumayan beberapa persen membaik. Lalu aku konsultasi ke psikolog, alhamdulillah ada peningkatan, tapi belum sepenuhnya kembali normal. Aku menyelami diri, hingga saat aku tektokan bareng suami aku semakin yakin. Sepanjang perjalanan isinya lebih banyak ngobrol dengan suami dan menyelami diri. Mencari akar permasalahanku. Dan aku semakin yakin juga jujur kepada diri sendiri kalau yang bikin aku kayak gini adalah salah satu pikiranku yang tersangkut di permasalahan yang belum aku selesaikan. Sebuah tanggung jawab di sebuah komunitas, sesuatu yang besar dan aku bingung memulai penyelesaiannya dari mana.

Aku minta ke Allah dibantu karena aku benar-benar tidak tahu harus bagaimana. Mau minta tolong tim sungkan, mau kerja sendiri rasanya berat banget. Akhirnya nyangkut dan terbawa di alam sadar dan ngaruh ke lain-lain.

Alhamdulillah setelah Allah bukakan pintu, tetiba tim pada semangat untuk gerak dan bangun kembali. Akhirnya ngumpul lagi, mendadak gitu aja tapi sat set was wus.. Dari siang sampai sore ngobrolin tentang PR besar itu diselingi curhat para ibu-ibu muda hehe, alhamdulillah seperti layaknya nemu pencerahan. Dan di situlah aku semakin yakin kalau yang bikin aku awut-awutan adalah sikapku menghindari masalah itu, jadi nggak selesai-selesai dan malah bikin pikiran. Alhamdulillah Allah kasih jalan. Setelah pertemuan kemarin aku tetiba jadi diriku kembali yang penuh semangat dan rasanya berbunga-bunga masya Allah. Dan ternyata timku pun merasakan hal yang sama. Masya Allah Alhamdulillah.

Tulisan ini kubuat untuk mengabadikan momenku yang masya Allah, walaupun penulisanku masih acak adut tapi aku berharap bisa menguncinya dulu dan memperbaikinya kemudian insya Allah.

Malang, Senin 19 Mei 2025

#KlipMei2025
#BelajarNulis

Selasa, 06 Mei 2025

Sebuah Cangkir Istimewa

 "Bunda, lihat aku punya cangkir baru. Aku bikin sendiri dari botol yakult." sambut Adik Syifa saat aku bangun. Ya, ternyata aku ketiduran sore tadi. Ngantuk yang kutahan-tahan ternyata meluap juga, menagih hutang tidur yang tadinya aku gunakan untuk menjahit kilat kebaya Adik Syifa demi upacara Hardiknas yang hemat dan tepat guna hehe.

Sambil memulihkan nyawa yang rasanya belum penuh, kucoba melihat cangkir yang ditunjukkan Adik Syifa dengan seksama. Masya Allah, seketika aku takjub. Si mungilku ini memang suka berkreasi mandiri. Diamnya produktif. Dia suka sekali memanfaatkan limbah di rumah untuk membuat handicraft sesuai imajinasinya.

Bermodalkan botol yakult yang sudah dicuci bersih, gunting imutnya, kertas bekas, dan selotip, ia menyusun bagian-bagian cangkirnya. Leher botol ia gunting menjadi cuping cangkir, lalu bagian bawah lehernya digunting zigzag terbuka--mungkin dalam imajinasinya ini adalah variasinya, aku lupa belum menanyakan ini. Cuping tadi ia lekatkan dengan badan cangkir menggunakan selotip, herannya cupingnya kokoh sekali. Lalu cangkir itu dihias menggunakan kertas bekas yang digunting dan digambari bunga-bunga lalu dilekatkan ke badan gelas secara melingkar menggunakan selotip.

Masya Allah kreatif sekali Adik ini. Cangkirnya sederhana tapi bagiku ini istimewa karena yang membuatnya anakku yang masih TK. Awalnya, kukira hanya bentuknya menyerupai cangkir dalam imajinasinya. Ternyata, cangkir itu benar-benar digunakan Adik Syifa dan Mas Fatih untuk minum hehe..

Saat ia menemukan sisa korsase mini yang kugunakan untuk aksesoris kebayanya, ia pun meminta izin menggunakan lem tembak untuk memasang korsase itu di cangkirnya. Menemani bintang kecil yang ia temukan di jalan katanya.

Terkadang hal-hal sederhana seperti ini akan menjadi bekalnya kelak dan memori istimewa untuk kami--orang tuanya. Bosan itu baik! Seperti yang selalu ayahnya sounding ke Adik Syifa dan Mas Fatih. Yap, dari bosan, imajinasinya akan berkembang. Tidak hanya stimulasi berlebih yang diproses pada otaknya akibat scrolling atau screen time berlebih.

Kami memang sepakat untuk screen time anak-anak khusus hari Sabtu dan Minggu saja + bonus saat Ramadan. Selain itu, biarkan mereka bermain dalam dunia nyata. Entah yang melibatkan fisik bersama temannya di depan rumah, atau hanya sekedar bersantai istirahat (nyatanya santainya mereka adalah berkreasi hehe, entah membuat sesuatu maupun menyusun lego/robot).

Dari secangkir imut nan istimewa ini, aku belajar untuk melihat anakku lebih dekat. Belajar untuk lebih memahaminya akan apa yang lebih ia sukai. Dari cangkir kecil ini pula aku belajar bersyukur bahwa pencapaian anak bukan hanya yang tertulis di rapor mereka, melainkan portofolio nyata yang mereka kumpulkan.

Nak, teruslah bahagia dengan kebaikan yang menyertai.
Nak, teruslah menjadi bintang yang menyinari.
Nak, teruslah saling mendukung dengan saudaramu.
Doa Ayah dan Bunda selalu membersamai kalian insya Allah.
Barokallah sayang


Malang
Selasa, 6 Mei 2025

Sabtu, 03 Mei 2025

Apresiasi Sekolah untuk Mas Fatih: Santri Terdisiplin dalam Muroja'ah

Mataku lengket sekali, ternyata hutang tidurku belum lunas. Saat menyimak Mas Fatih muroja'ah ba'da subuh, aku berkali-kali disenggol Mas Fatih karena kesliut aka ketiduran sebentar. 

Sebelum ke sekolah Mas Fatih, aku menyempatkan masak satset dengan menu sederhana. Dilanjutkan membuat jenang grendul atau biasa disebut bubur candil. Menu favorit suami dan Adek Syifa. Namun, setelah berkali-kali menambahkan air rebusannya, entah kenapa dia tetap saja tidak mau matang. Akhirnya aku pun pasrah. Baru sorenya aku tahu kalau ternyata tepung yang aku ambil tadi adalah tepung beras. Seharusnya tepung ketan. Akhirnya, aku membuat lagi menggunakan tepung ketan. Dari situlah aku jadi tahu perbedaan tekstur bubur candil yang menggunakan tepung ketan dan tepung beras. Yang menggunakan tepung ketan bisa kenyal lembut, sedangkan yang menggunakan tepung beras cenderung agak keras. Apalagi karena adonan yang pertama --memakai tepung beras -- tadi kurasa kurang cairan. 

Alhamdulillah sesi kedua cukup berhasil. Sudah jadi bubur candil yang semestinya hehehe. Kenyal grendul yang dibalut bubur kental didampingi manis lembut gula kelapa yang dipadu dengan gurihnya santan kental. Masya Allah perfecto! Walaupun sebenarnya aku masih meraba-raba kalau ini masih bisa ditingkatkan cita rasanya biar lebih kompleks dan jatuh cinta pada kecap pertama seperti saat membuat formula kue-kue andalanku.

Sambil membuat bubur sesi kedua, aku masih terngiang-ngiang sesi konsultasi proses belajar Mas Fatih di sekolah. Para asatidz memberikan apresiasi untuk Mas Fatih sebagai siswa terdisiplin dalam muroja'ah. Masya Allah, terima kasih ya, Nak. Semoga Allah senantiasa memberikan rasa cinta kepada-Mu terhadap agama Allah ini, juga kepada Qur'an pedomanmu dan Rasulullah teladanmu. Allahumma aamiin.

Tadi, Ustadzah juga menyampaikan kalau Mas Fatih tidak ada catatan buruk. Alhamdulillah, saat muroja'ahnya pun semangat, tanggung jawab dan usaha untuk bisa semakin tumbuh. Mas Fatih juga termasuk anak yang bijaksana -- masya Allah, kami bersyukur sekali diberi Mas Fatih. 

Ustadzah juga sempat bertanya aku aktivitasnya apa kok bisa membersamai Mas Fatih dan Adik Syifa penuh -- bersama ayahnya. Aku sampaikan kalau kesibukanku di luar keluarga hanya berjualan brownies panggang dan bergabung dengan komunitas-komunitas saja. Beliau menilai aku bisa membagi waktu dengan baik. Namun, aku justru jadi melongo. Seakan langsung merefleksi impian beberapa tahun yang lalu. 

Di saat itu aku merasa insecure, merasa belum melakukan yang terbaik dalam membersamai anak-anakku. Dan di saat itu juga aku mempunyai mimpi, kelak Sashi adalah ibu yang bahagia dalam aktualisasi diri juga dalam membersamai suami dan anak-anakku. Kelak aku akan menjadi wanita yang memberi manfaat tanpa meninggalkan tanggung jawabku yang utama. Insya Allah.

Benarkah mimpi itu terwujud satu per satu? Masya Allah, begitu indah jalinan takdir yang Allah semai untuk kami. Seni komunikasi yang Allah hadirkan untuk keluarga kecil kami sungguh nikmat Allah yang besar. Diberi kondisi sefrekuensi dengan pasangan itu adalah kemudahan besar bagi kami. Alhamdulillah, ayahnya menyadari bahwa pembiasaan disiplin dengan pemahaman itu penting untuk anak dan harus dilakukan bersama. Dimulai dari orang tua sebagai teladan nyata. Bukan menyuruh, melainkan memberikan contoh dan mengajak. Bertahap dari level teringan lalu bertambah sesuai perkembangannya.

Alhamdulillah, bulan Ramadan kemarin anak-anak jadi terbiasa bangun untuk sahur, sholat subuh dan muroja'ah ba'da subuh. Alhamdulillah, kebiasaan ini berlanjut hingga saat ini. Rasanya Allah memberikan kemudahan pembiasaan yang baik-baik dengan hadirnya Ramadan. Masya Allah. Sehingga saat sekolah uji coba metode baru, yaitu setoran voice note muroja'ah untuk mengontrol pembiasaan muroja'ah di rumah, Mas Fatih sudah memulai lebih awal. 

Saat sosialisasi mengenai voice note ini, sejujurnya aku sudah ingin menyampaikan keberatanku. Karena menurutku, biarkan anak-anak menikmati mencintai Al Qur'an dengan caranya yang menyenangkan, bukan paksaan. Namun, ustadz meyakinkan untuk mencobanya sebulan dahulu lalu akan di-review bersama. Qodarullah Mas Fatih kooperatif dan semangat, barokallah Nak. Kita sama-sama semangat belajar dan berjuang ya, Nak. Semoga senantiasa dibimbing Allah hingga berpulang kepada-Nya dalam keadaan diridhoi Allah dan kondisi terindah. Allahumma aamiin.


Malang

Sabtu, 3 Mei 2025

Kamis, 01 Mei 2025

Mengapa Allah Menciptakan Halal dan Haram, Bunda?

Jam tanganku menunjukkan pukul tujuh lebih sedikit. Artinya, aku memiliki cukup waktu untuk bisa menikmati perjalanan kami menuju sekolah anak-anak. Jalanan di daerah Wilis tidak seramai di jalan poros. Anak-anak antusias menyampaikan penggambaran obyek di sekitar jalanan.

Hingga sampai di depan resto Jepang, si sulung nyeletuk, "Bunda, kalau ada rejeki, kita makan di sini ya."

"Insya Allah, Nak. Kita cari tahu juga ya kehalalan menu-menunya nanti," tanggap Bunda santai sambil menyetir motor biru kesayangan.

Rupanya, ini memantik rasa ingin tahu si sulung. Ia menanyakan mengapa kita harus memperhatikan kehalalan makanan. Berlanjut dengan pertanyaan, bahan apa yang bisa membuat menu di resto Jepang tidak halal.

Jujur, aku takjub dengan rasa penasarannya. Menurutku, ini kesempatan baik untuk membuka ruang diskusi. Mengingat usia anak sulung yang baru menginjak 6 tahun, rasa-rasanya bahasan tentang ini cukup berbobot. Aku berusaha menyajikan jawaban yang mudah ia tangkap dengan bahasa yang sederhana.

Kusampaikan kalau aku pernah bertanya ke restonya tentang kehalalan menu-menunya. Saat itu, restonya sangat menjaga keotentikannya sehingga masih menggunakan mirin. Si sulung tampak bingung dan bertanya mirin itu apa. Aku kiaskan dengan khamr karena beberapa hari yang lalu gurunya berkisah tentang haramnya khamr. Dia langsung paham kalau itu tidak diperbolehkan alias haram.

Ternyata rasa penasarannya belum berhenti di situ. Ia bertanya siapa yang menciptakan halal haram. Kujawab dengan santai dan tegas, Allah. Ia menggali lebih dalam. Mengapa Allah menciptakan halal dan haram, katanya.

Sebenarnya, aku butuh waktu berpikir. Kira-kira nilai apa yang mudah ditangkap olehnya. Alhamdulillah kujawab, "Karena Allah sayang pada kita, pada hamba-hamba-Nya, jadi Allah ingin kita makan yang halal saja. Insya Allah halal itu baik untuk kita, untuk kesehatan kita. Allah menjaga kita dengan menyediakan yang halal."

"Bunda, terus siapa yang makan yang haram?" celetuknya.
"Orang-orang non muslim boleh makan yang di kita nggak boleh."

Dia benar-benar antusias dengan diskusi ini. Dia paham bahwa orang non muslim boleh makan yang haram. Pertanyaannya berikutnya adalah mengapa orang non muslim tidak patuh pada Allah padahal Allah yang menciptakan. Aku masih menyusun kata-kata sederhana, ternyata adiknya menjawab dengan kisah Nabi Ibrahim as. yang menghancurkan berhala-berhala. Seketika si sulung mempertegas jawaban adiknya.

Masya Allah, ternyata usia 6 tahun sudah sebesar dan sedetail ini rasa ingin tahunya, tabarokallah, Nak. Aku menyampaikan ke suamiku saat sudah sampai di rumah. Kami bersyukur bersama karena Allah memudahkan kami untuk memiliki ruang diskusi yang terbuka. Seandainya tadi aku menyuruh mereka diam atau mengalihkan pembicaraan karena masih bingung mau menyampaikan seperti apa agar lebih mudah dipahami, mungkin saja diskusi kami tidak akan sepanjang ini. Semoga yang kami sampaikan tertanam nilai-nilai baiknya, dan jika ada yang kurang baik semoga Allah mudahkan anak-anak kami me-release-nya.

Semoga Allah senantiasa membimbing dan melindungi kita dan keluarga kita. Allahumma aamiin.


Sashi Nggar

Malang

Kamis, 1 Mei 2025