Kamis, 01 Mei 2025

Mengapa Allah Menciptakan Halal dan Haram, Bunda?

Jam tanganku menunjukkan pukul tujuh lebih sedikit. Artinya, aku memiliki cukup waktu untuk bisa menikmati perjalanan kami menuju sekolah anak-anak. Jalanan di daerah Wilis tidak seramai di jalan poros. Anak-anak antusias menyampaikan penggambaran obyek di sekitar jalanan.

Hingga sampai di depan resto Jepang, si sulung nyeletuk, "Bunda, kalau ada rejeki, kita makan di sini ya."

"Insya Allah, Nak. Kita cari tahu juga ya kehalalan menu-menunya nanti," tanggap Bunda santai sambil menyetir motor biru kesayangan.

Rupanya, ini memantik rasa ingin tahu si sulung. Ia menanyakan mengapa kita harus memperhatikan kehalalan makanan. Berlanjut dengan pertanyaan, bahan apa yang bisa membuat menu di resto Jepang tidak halal.

Jujur, aku takjub dengan rasa penasarannya. Menurutku, ini kesempatan baik untuk membuka ruang diskusi. Mengingat usia anak sulung yang baru menginjak 6 tahun, rasa-rasanya bahasan tentang ini cukup berbobot. Aku berusaha menyajikan jawaban yang mudah ia tangkap dengan bahasa yang sederhana.

Kusampaikan kalau aku pernah bertanya ke restonya tentang kehalalan menu-menunya. Saat itu, restonya sangat menjaga keotentikannya sehingga masih menggunakan mirin. Si sulung tampak bingung dan bertanya mirin itu apa. Aku kiaskan dengan khamr karena beberapa hari yang lalu gurunya berkisah tentang haramnya khamr. Dia langsung paham kalau itu tidak diperbolehkan alias haram.

Ternyata rasa penasarannya belum berhenti di situ. Ia bertanya siapa yang menciptakan halal haram. Kujawab dengan santai dan tegas, Allah. Ia menggali lebih dalam. Mengapa Allah menciptakan halal dan haram, katanya.

Sebenarnya, aku butuh waktu berpikir. Kira-kira nilai apa yang mudah ditangkap olehnya. Alhamdulillah kujawab, "Karena Allah sayang pada kita, pada hamba-hamba-Nya, jadi Allah ingin kita makan yang halal saja. Insya Allah halal itu baik untuk kita, untuk kesehatan kita. Allah menjaga kita dengan menyediakan yang halal."

"Bunda, terus siapa yang makan yang haram?" celetuknya.
"Orang-orang non muslim boleh makan yang di kita nggak boleh."

Dia benar-benar antusias dengan diskusi ini. Dia paham bahwa orang non muslim boleh makan yang haram. Pertanyaannya berikutnya adalah mengapa orang non muslim tidak patuh pada Allah padahal Allah yang menciptakan. Aku masih menyusun kata-kata sederhana, ternyata adiknya menjawab dengan kisah Nabi Ibrahim as. yang menghancurkan berhala-berhala. Seketika si sulung mempertegas jawaban adiknya.

Masya Allah, ternyata usia 6 tahun sudah sebesar dan sedetail ini rasa ingin tahunya, tabarokallah, Nak. Aku menyampaikan ke suamiku saat sudah sampai di rumah. Kami bersyukur bersama karena Allah memudahkan kami untuk memiliki ruang diskusi yang terbuka. Seandainya tadi aku menyuruh mereka diam atau mengalihkan pembicaraan karena masih bingung mau menyampaikan seperti apa agar lebih mudah dipahami, mungkin saja diskusi kami tidak akan sepanjang ini. Semoga yang kami sampaikan tertanam nilai-nilai baiknya, dan jika ada yang kurang baik semoga Allah mudahkan anak-anak kami me-release-nya.

Semoga Allah senantiasa membimbing dan melindungi kita dan keluarga kita. Allahumma aamiin.


Sashi Nggar

Malang

Kamis, 1 Mei 2025

0 comments:

Posting Komentar