Minggu, 29 Januari 2023

Roti Maryam aka Roti Canai Shiny Golden Brown, Empuk, Lembut, dan Lentur


Aku suka sekali roti maryam. Berawal dari memori jaman SD dulu, aku pernah dikasih temanku roti maryam buatan ibunya yang dimakan bareng madu. Enakkk sekali! Temanku ini orang Arab. Dulu yang kutahu itu makanan khas Arab dan yang bisa bikin ya orang Arab saja wkwkwk. Maklum anak SD.

Karena penasaran, aku mencoba berbagai resep, tapi entah kenapa belum juga berhasil membuat sesuai yang aku inginkan waktu itu. Setidaknya, aku menemukan potongan tips-tipsnya dari berbagai resep yang kubaca, yang akhirnya aku gabungkan untuk membuatnya sendiri. Aku membuatnya tanpa takaran, asal adonan lembab dan lemas insyaAllah akan empuk dan lembut hasilnya. 


Tiba-tiba ibuku ingin aku membuatkannya. Sedangkan aku sudah lupa perkiraan takaran yang pas seperti yang aku bikin terakhir kali. Akhirnya, aku browsing di Youtube. Aku suka yang di chanel Sheldo's Kitchen dan Buttermilk Pantry. Kuamati bahan-bahan dan teknik yang digunakan oleh bakernya. Aku adaptasi dari keduanya. Hasilnya sesuai dengan yang aku inginkan. Shiny golden brown, renyah di luar lembut di dalam, empuk sampai dingin, nggak alot, dan juga lentur. Dimakan tanpa pendamping juga sudah enakk, gurih, samar-samar manis.


PRnya adalah mempercantik bentuk Roti Maryamnya hehe .... Selain itu, aku ingin membuat yang bentuk kotak saja dan diremukkan sebelum dicocol ke kuah gurih, khas Roti Canai Malaysia/Singapura seperti yang pernah ditraktir Miss Sharmila dulu di Singapura. Hanya porsinya yang agak berlebihan untuk ukuran personal orang Indonesia hehe .... Cocoknya memang untuk disantap rame-rame.



ROTI MARYAM aka ROTI CANAI

By Sashi


Bahan Kering:

- 300 gr terigu protein sedang (aku 260 gr Segitiga + 40 gr Cakra karena kehabisan)


Bahan Basah:

- 160 ml susu cair hangat kuku (susu UHT full cream, boleh ditambah jika kurang lembab)

- 20 gr unsalted butter

- 30 gr SKM

- 1 sdt garam

- 1 sdm gula


Cara Pembuatan:

1. Potong-potong kecil butter, masukkan ke dalam susu hangat beserta semua bahan basah, aduk rata.

2. Tuang bahan basah ke bahan kering, aduk-aduk. Uleni ringan hingga semua bahan menyatu saja, tidak perlu sampai kalis. Tutup panci, diamkan 15 menit.

3. Uleni ringan hingga kalis (semenit 2 menit aja). Bagi adonan menjadi 11, bulatkan. Lumuri permukaan setiap bulatan dengan minyak agar tidak kering.

4. Simpan di wadah tertutup di suhu ruang 1-5 jam.

5. Olesi permukaan mate menggunakan minyak agar memudahkan saat penarikan. Tipiskan adonan hingga tipis sekali tampak window pane (aku pakai rolling pin, lanjut aku tarik-tarik lembut ke tepi di seluruh sisinya. 4 jari posisi di bawah, jempol di atas roti agar tidak mudah sobek).

6. Olesi seluruh permukaan roti dengan minyak samin/butter/margarin yang tidak begitu asin. Gulung lalu melarkan dengan cara ditarik-tarik ujungnya, gulung seperti konde. Bisa juga hanya dilipat menjadi kotak, khas roti Canai di Malaysia/Singapura, suka-suka bentuknya. Istirahatkan hingga roti tidak membal saat disentuh.

7. Panaskan wajan anti lengket, beri minyak samin/butter/margarin agak banyak agar roti bisa mengkilap. Panggang roti hingga golden brown, balik. Angkat saat sisi satunya sudah golden brown juga.



Tips:

1. Penggunaan butter dan susu membuat roti tetap empuk dan lembut walaupun sudah dingin.

2. Usahakan adonan lembab dan lemas sejak awal. Bukan kering dan kaku.

3. Uleni ringan di awal karena dengan memberikan waktu 15 menit itu adonan bisa agak kalis dengan sendirinya, tinggal lanjut ulen ringan setelahnya.

4. Istirahat di setiap tahapan sebelum lanjut ke berikutnya agar roti lebih mudah di-handling, tidak membal.

5. Mengolesi seluruh permukaan dengan lemak bertujuan untuk membuat lapisan-lapisan roti nantinya.

6. Bisa juga menipiskan roti ala abang martabak, tipsnya cari di youtube ya.

7. Tujuan ditipiskan hingga window pane adalah agar awet lenturnya, tidak cepat mengeras saat dingin.

8. Tunggu hingga wajan panas agar roti tidak bantat.

9. Agar roti shiny golden brown, gunakan lemak agak banyak saat memanggangnya di wajan.




Lawang

Minggu, 29 Januari 2023

#Klip_Januari _2023_8


Sabtu, 28 Januari 2023

Merawat Luka Infeksi

Sudah beberapa hari ini aku berjalan dengan tertatih. Luka infeksi di jari manis kakiku ternyata menjalar ke jari tengah. Awalnya, kukira setelah kurawat intensif, infeksinya akan berhenti. Namun, aku keliru! Dalam hitungan 1-2 hari saja, luka itu berhasil menjajah 2 jari kakiku. Membentuk sabuk luka infeksi (bernanah) di jari tengahku. Lalu membuat 3 jari tengah kaki kananku itu membengkak. Yang puncaknya, punggung kaki pun ikutan bengkak. Saat itulah aku semakin kesulitan berjalan dan mulai terasa mengganggu. Apalagi menjelang tengah malam. Rasa nyeri yang “cukup bisa dinikmati” datang menemani. 


Sejak awal–ketika mengetahui lukaku, suami menyarankanku untuk memeriksakannya ke dokter spesialis kulit. Karena khawatir aku salah merawatnya. Namun, aku menolaknya. Pikirku, si jari manis telah mereda, insya Allah sebentar lagi sembuh. Mungkin, aku tertular scabies melihat bintik-bintik yang timbul sebelum terinfeksi. Suami bilang, itu bukan scabies. Scabies akan cepat sekali menyebar ke area lainnya. Sedangkan luka di kakiku hanya di satu area saja.


Setelah infeksinya semakin menyebar, aku pun menyerah. Aku menuruti nasihat suamiku. Dokter pun sempat terkejut karena infeksiku cukup parah katanya dan bukan scabies. Biasanya infeksi itu karena ada luka dan kotor atau lembab. Bakteri itu tumbuh dan berkembang dengan baik pada area yang lembab dan kotor. Deg! Beliau menyampaikan banyak kuman di dalam luka infeksi. Bahayanya adalah ketika dia menyebar di dalam tubuh dan menginfeksi organ-organ tubuh, jadi bukan hanya yang nampak. Makanya harus segera diatasi! Pikiranku ke mana-mana, segera saja aku stop dan aku sadari kondisi yang ada.


Baiklah, aku sudah terluka. Memang aku keliru dengan percaya diriku kemarin. Namun, sesalku tak akan mengubah apa pun. Malahan overthinking bisa menurunkan imunitasku. Yang kubutuhkan adalah bersabar, menerima kondisi yang ada, dan telaten merawatnya. Selain itu, menjadi koreksiku juga untuk lebih memperhatikan detail kebersihan dan kesehatan tubuhku. Mungkin sekali seatu plastikku yang modelnya berlubang-lubang membuat debu lebih mudah masuk dan ketika dalam sepatu basah cukup lama saat kehujanan membuat kaki tidak sehat. "Ayo Kiki, lebih perhatian lagi pada diri sendiri, self love!"


Sesuai saran dokter, aku merendam kakiku sekitar 1 jam di pagi dan sore hari dengan air bersih dan mengganti airnya tiap beberapa menit sekali. Tujuannya adalah melembekkan permukaan luka agar nanah yang tertahan bisa keluar sampai bersih dengan sendirinya. Sehingga yang tersisa hanya luka saja, tanpa infeksi. Setelah merendam kakiku, lanjut mengompresnya dengan air es atau es batu agar bengkaknya segera mereda.


Dokter bilang kalau di rumah sakit akan di-drainese, semacam disikat untuk mengeluarkan nanahnya sampai bersih dengan cepat. Perih? Pasti. Namun, dokter menyarankanku cara yang lebih bersahabat walaupun waktu yang dibutuhkan juga lebih lama dibandingkan potong kompas tadi. Kebetulan dokterku tidak mudah memberikan obat, seperlunya saja dan mendukung dengan cara perawatan alami. Aku hanya mendapat antibiotik untuk 6 hari. Berharap luka infeksiku sudah sembuh 6 hari ke depan.


Aku jadi teringat adikku yang pernah mengalami luka infeksi juga, dia benar-benar menyikat luka infeksinya! Rasanya pasti aduhai. Aku mencoba menyikat sedikit lukaku. Uhhhh jangan ditanya perihnya, perih sekali! Akhirnya kuurungkan. Aku mengelupas permukaan lukaku perlahan setelah kurendam dan kubilas. Perih, tapi masih bisa kunikmati rasanya. 


Aku tidak seberani adikku yang memberi alkohol pada luka yang sudah di-drainese. Setelah aku menuruti saran mama mertuaku untuk mengoleskan aloevera gel Herbalife setelah membersihkan luka terlebih dahulu, aku pun terheran-heran. MasyaAllah, ternyata dia bekerja dengan sigap. Mengeringkan luka dengan sangat cepat. Luka yang awalnya benyek, basah, tak kunjung kering dan nanahnya keluar terus. Langsung mampet setelah pemakaian pertama. Kering! Infeksinya pun berhenti! 


Jangan kaget kalau sensasi awal mirip disiram alkohol hehehe …. Mungkin karena ada jus lemon sebagai salah satu bahannya. Tak masalah, lebih baik terasa perih sebentar daripada harus merasakan sakit yang awet. Tenang, aku tidak jualan Herbalife hehe, aku hanya memberikan informasi sesuai yang aku alami. “Alhamdulillah, obat teka lara lunga.” kata pepatah Jawa.


Sekitar 1 pekan, lukaku berangsur kering dan sembuh, bengkak kaki juga semakin mereda. Alhamdulillah, aku sudah bisa berjalan lagi tanpa tertatih. Kumulai merindukan dapurku hehe …. Aku juga sudah membuat daftar eksperimen di ruang kerja mungilku itu. Dada luka infeksi!


Sabar - yakin sembuh - tingkatkan imunitas - bersihkan infeksinya - obati lukanya! Insya Allah sembuh.




Malang

Sabtu, 28 Januarui 2023

#Klip_Januari _2023_8


Jumat, 20 Januari 2023

Nggak Jadi Bolos Deh, Bun

Pagi ini anak sulungku bangun subuh, sebenarnya karena kebelet pipis. Lalu dia tanya, “Bunda ini udah waktunya sholat ta?”


“Iya Mas. Udah subuh. Mandi sekalian ya Mas.” jawabku. Dia tidak akan bisa tidur lagi saat tahu kalau sudah pagi, bukan malam lagi.


Awalnya, dia menolak, tapi setelah kembali ke kamar mandi lagi untuk buang hajat besar, akhirnya setuju walaupun dengan keberatan hehe …. Menurutnya, masih dingin jadi nanti-nanti saja. Aku ingatkan kalau kemarin Kakak berangkat kesiangan karena menunda-nunda mandi. Dia pun setuju.


Biasanya dia hanya protes sejenak, selanjutnya dia akan setuju tanpa rewel. Namun, ternyata kali ini ada yang berbeda. “Bunda, hari ini aku nggak mau sekolah. Aku capek.”


Hmm, tadinya mulut ini ingin meluncurkan kalimat-kalimat pamungkas, tapi segera kuurungkan. Alhamdulillah, tahan, tahan, yuk mikir! Sejenak aku teringat kata Teh Kiki Barkiah dalam webinar “Pengasuhan Minim Ngegas (Meneladani Komunikasi ala Rasulullah)" beberapa hari lalu, yang intinya beliau suka menyisipkan pesan kepada buah hatinya yang masih pada fase anak-anak dalam bentuk cerita, bisa fabel, sirah nabawiyah, dll. Baiklah, aku akan mencobanya!


Kututurkan kisah tentang tupai yang tak ingin masuk sekolah. Padahal di hari itu, teman-temannya sedang asyik belajar membaca peta. Lalu setiap anak mendapatkan misi untuk membaca peta harta karunnya masing-masing.


Si Tupai asyik saja bermain sendiri, pokoknya dia ingin bebas hari itu, pikirnya. Dia terus bermain di hutan sendirian sambil mencari makanan. Namun, entah mengapa makanan yang dia cari seakan lenyap dari seluruh pandangannya. Hingga sore tiba, tetap saja nihil, dia tak menemukan yang dia cari. 


Si Tupai bertemu dengan temannya saat perjalanan pulang. Dia ditanyai oleh temannya, mengapa wajahnya begitu muram dan mengapa dia tidak masuk sekolah hari ini. Setelah Tupai bercerita, temannya menjelaskan kalau tadi di sekolah dia belajar bersama untuk membaca peta harta karun. Kejutan! Ternyata harta karunnya berupa makanan yang sangat banyak, cukup untuk simpanan beberapa hari ke depan. Karena tidak tega pada si Tupai, temannya pun berbagi makanan dengannya dan mengajaknya untuk bersemangat belajar. Si Tupai pun menyesal karena sudah bolos sekolah. Dia bertekad untuk terus bersemangat belajar agar bertambah ilmunya dan bahagia. Tidak mau bolos sekolah lagi. 


Aku tidak menyangka, tepat di ujung kalimat terakhirku berkisah. Anak sulungku berkata dengan penuh gelora. “Bunda, aku nggak jadi nggak sekolah, aku mau sekolah aja. Biar dapat ilmu. Aku udah bersemangat.” Masya Allah, alhamdulillah, sesederhana itu kebahagiaan seorang ibu. 


Aku bahagia dan semakin tersadar bahwa komunikasi minim ngegas insya Allah akan lebih nyampe ke anak atau ke siapa pun. Karena ketika komunikan bahagia maka akan lebih mudah memproses pesan yang diterimanya. Begitu pun sebaliknya, ketika kita sebagai komunikator berucap model ngegas maka komunikan pun akan terbawa emosi negatif kita sehingga pesan yang diterimanya lebih sulit untuk dipahami atau dalam kata lain, membutuhkan lebih banyak waktu untuk mencernanya.


Ya Allah, tolong bantu kami untuk menjaga lisan ini. Tolong bantu kami menjadi orang tua yang semakin bersahabat dengan anak nggih. Yang membuat anak-anak nyaman ketika bersama kami, bukan menjauhi kami karena terbayang hal-hal yang membuat mereka tidak nyaman dengan ucapan atau perilaku kami. Allahumma aamiin..


Sama-sama semangat menjadi orang tua yang terus belajar dan memperbaiki diri ya bestie..

Big Huggg…




Malang

Jumat, 20 Januarui 2023

#Klip_Januari _2023_7


Senin, 16 Januari 2023

Kado Spesial Pagi ini

Semalam, aku mendapatkan kabar ibunda Ustadzah Cholida wafat. Tanpa pikir panjang, kuniatkan untuk takziyah pagi setelah mengantarkan anak sulungku ke sekolah.

Entah kenapa kadang aku masih berusaha mencari waktu yang pas dengan jadwal keluarga kami untuk takziyah, tetapi kali ini aku ingin menyegerakannya. Aku berdoa ini menjadi kebiasaan baik baru bagiku, menyegerakan bertakziyah karena ketika menunda-nundanya tidak menutup kemungkinan akan berujung batal.


Aku datang bersama anakku yang kedua karena dia terbiasa ikut mengantarkan anak sulungku. InsyaAllah aman untuknya berada dalam suasana duka karena ini bukan hal baru untuknya. Mengingat kala itu dia menyaksikan kepulangan Akungnya. Kuniatkan ini juga untuk mengajaknya belajar bersama bagaimana kita sebaiknya bersikap ketika mendapat berita duka. Apalagi itu masih orang dekat.


Sesampainya di rumah Ustadzah, aku tetap merasakan kenyamanan, ketenangan dan kehangatan rumah itu. Sama sekali berbeda dengan suasana duka pada umumnya. Mungkin karena tak ada adegan menangis hingga sesenggukan atau bahkan berkurang kesadaran diri keluarga yang dititinggalkan. Banyak murid dan kerabat Ustadzah yang sudah hadir duluan. Aku berkumpul dengan teman-teman komunitasku.  Ada rasa bahagia bisa berjumpa mereka lagi setelah aku vakum sekian bulan.


Ternyata saat itu ibunda Ustadzah masih disucikan. Setelah menunggu beberapa waktu, jenazah siap disholati. Awalnya aku sama sekali tidak tahu kabar tentang kapan beliau akan disucikan, disholati dan dimakamkan. Ternyata aku diberikan nikmat oleh Allah untuk mensholati beliau, sebagai praktik sholat jenazah secara langsung pertama kali dalam hidupku bersama jamaah yang masya Allah banyaknya.


Entah mengapa aku tidak sedih, bahkan jujur aku merasakan sebuah kebahagiaan. Lebih tepatnya aku terharu menyaksikan bagaimana anak-anak, cucu-cucu dan keluarga ibunda Ustadzah begitu menyayangi beliau. Mereka merawat ibunda Ustadzah dengan hal-hal terbaik, termasuk dengan bekal ilmu.


Sungguh sebuah nikmat yang luar biasa ketika dikaruniai keturunan yang salih-saliha, yang begitu mencintai beliau. Apa yang Allah suguhkan hari ini serasa menegurku dengan cinta-Nya. Bagaimana dengan kami? Sudahkan kami menjadi anak-anak yang demikian? Sudah berbaktikah kami? "Ya Allah, aku mohon, kelak ketika kami mengantarkan orang-orang tercinta kami, tolong izinkan kami bisa merawatnya dengan baik nggih, dengan penuh cinta dan dengan ilmu. Izinkanlah kami berpulang dan bertemu dengan-Mu dalam kondisi terbaik kami. Allahumma aamiin." Refleks kupanjatkan doa-doaku.


Sebelum ini, aku pernah ikut membersamai merawat orang tua dari orang sekitarku. Begitu sedih aku menyaksikan apa yang terjadi saat itu adalah kebalikan dari apa yang Allah hadirkan pagi ini. Di titik itu aku menyadari sesuatu. Betapa orang tua akan bahagia dunia dan akhirat ketika kita (anak-anaknya) dapat mencintai, memberikan perhatian, merawat hingga tiba masanya kita mengantarkan mereka dengan bahagia, tulus, berilmu dan cinta yang bermekaran, insya Allah. Sebaliknya, mungkin mereka akan sangat sedih ketika anak-anak mereka bahkan tak peduli pada mereka di saat mereka sakit, apalagi tak berani atau tak berkeinginan merawat mereka ketika telah berpulang.


Ketika selesai mensholati, kami bersalaman dengan Ustadzah. Aku gendong anakku untuk bisa salim juga. Ketika mendapatkan doa orang-orang baik maka itu bonus besar untuk kami. Namun, entah mengapa saat tiba giliranku, ada saja yang membuat kami tak bisa segera salaman.


Aku mengoreksi hati. Mungkin hatiku kurang bersih, niatku kurang lurus. Begitu Allah mudahkan teman-teman untuk bersalaman tadi, sedangkan aku butuh bersabar dulu. Apalagi aku sambil menggendong si kecil di tengah-tengah kerumunan jamaah yang akan bersalaman juga, bisa dibayangkan lumayan pegal rasanya hehe .... Yuk luruskan niat, bersihkan hati, ucapku pada diriku sendiri. Sekilas aku tiba-tiba terpikir, "Seperti inikah ketika di Masjidil Haram?" Ya Allah bantu aku untuk membersihkan hatiku agar bisa mendapatkan ridho-Mu dalam aktivitas yang aku lakukan.


Berikutnya, entah siapa yang memulai dengan pertanyaan atau Ustadzah refleks bercerita. Beliau menyampaikan kalau ibunda mulai bernapas berat ketika sholat Isya' rakaat ketiga. Namun, beliau dapat menyelesaikan sholat dan dzikirnya, selanjutnya beliau berpulang. Masya Allah, siapa yang tidak iri ketika mengetahui hal tersebut. Ya Allah, amalan apa yang telah beliau lakukan dan bagaimana beliau menjaga sholatnya semasa beliau hidup hingga Engkau mencabutnya dalam kondisi sedang berkomunikasi dengan-Mu?


Ustadzah pun bilang seumur hidupnya tidak pernah diperintah ibundanya, ibundanya tidak suka menyuruh-nyuruh anaknya, sebagai contoh beliau tidak pernah menyuruh mengambilkan sapu, remeh ya. Dari situ kita bisa tahu bagaimana pribadi beliau insya Allah. Masya Allah, jujur ini tidak mudah, kadang karena alasan sedikit capek aku masih saja meminta tolong pada anakku saat mereka asyik bermain bersama, sekedar untuk mengambilkan sesuatu. Benar-benar pengingat bagiku. Sebenarnya, tak masalah minta tolong, tetapi sebaiknya aku tekadkan untuk mandiri, ini juga akan memberikan contoh pada anak-anakku untuk lebih mandiri dan tidak suka memerintah, insya Allah.


Inikah yang ingin Engkau hadirkan untukku dan anakku ya Allah sehingga Engkau mengizinkanku bersalaman setelah mendengarkan pemaparan Ustadzah, bukan lebih awal. Ya Allah, mohon ampun karena aku sempat bersu'udzon pada diriku sendiri, sekalipun bertujuan untuk instropeksi diri. Sungguh, Engkau Maha Mengetahui. Alhamdulillah, segala puji untuk-Mu ya Allah, Tuhan semesta alam. Begitu indahnya Engkau menata semuanya agar kami bisa belajar lebih baik dan banyak, Insya Allah.


Air mataku baru tumpah saat aku menulis ini. Mengingat betapa beruntungnya mereka diberikan nikmat merawat orangtuanya, diberikan nikmat memiliki keturunan yang salih-saliha dan menyejukkan hati. Mengingatkanku pada ladang pahala yang Allah siapkan untuk kami. Semoga kami juga diberikan nikmat yang demikian. Allahumma aamiin.


Mama-mamaku dan Ayah-ayahku, tetiba dadaku sesak, air mataku tak tertahan, aku begitu merindukan kalian. Semoga Allah senantiasa melindungi mama-mama dan Ayah-ayah, memberikan kesehatan yang berkah juga menghindarkan dari siksa kubur juga neraka. Semoga Mama-mama dan Ayah2 bahagia di dunia dan akhirat serta Allah ampuni segala dosa dan khilaf. Allahumma aamiin.




Malang

Senin, 16 Januarui 2023

#Klip_Januari _2023_6_876


Senin, 09 Januari 2023

Euforia JCC Malang Raya 2022


Masih hangat dalam ingatanku, euforia JCC Malang Raya 2022. Sebuah agenda besar komunitas kami di regional tercinta. Yang didedikasikan untuk Indonesia, khususnya masyarakat di Malang Raya dalam aspek pendidikan anak dan keluarga.

Sudah pada kenal belum JCC? Aku kenalin dulu boleh ya? Hehe.. 

JCC kepanjangan dari Jelajah Cita-Cita. Agenda ini merupakan yang ketiga sejak diinisiasi oleh Mbak Andita IPMR. Awalnya, kunjungan profesi dilakukan satu persatu ke tempat profesi, misal ke Damkar, ke Lanud, ke Kampung Keramik dll. Lalu terpikirkan kenapa tidak kita datangkan para profesi ke acara kita sehingga anak-anak bisa berinteraksi dengan banyak profesional secara langsung. Satu waktu dapat banyak kunjungan.


Dari gagasan tersebut, diagendakanlah JCC 1 pada tahun 2017. Melihat animo masyarakat yang besar, JCC kembali diadakan pada tahun 2018. Sayangnya, saat pandemi agenda ini harus di-pause sejenak. Dan setelah pandemi berlalu, agenda ini diangkat menjadi perhelatan nasional sebagai rangkaian dari perayaan milad Ibu Profesional yang kesebelas atas usulan Mbak Elis selaku Sekreg IP Malang Raya. Serentak di 32 kota! Masya Allah kerennnn..


Di JCC Malang Raya 2022, anak-anak diajak bertualang ke booth-booth profesi di kota Profesi. Mereka mendapatkan misi untuk aktif mengenal profesi-profesi yang ada. Sebagai reward, anak-anak mendapatkan bintang untuk kategori junior dan mendapatkan puzzle untuk peserta kategori maestro. Yang selanjutnya akan dikalkulasi untuk mendapatkan hadiah di akhir sesi bagi yang bintangnya paling banyak atau puzzle-nya lengkap.


Ada 16 booth yang bisa dikunjungi para peserta dan ada 4 suguhan dipanggung untuk memperkaya wawasan anak-anak mengenai bakat, minat dan profesi. Aku bena-benar merinding saat merasakan euforianya. Melihat anak-anak bahagia menjalankan misinya dan menikmati talent show sangat melegakan. Membuatku dan teman-teman sesama panitia terharu. Masya Allah ternyata bisa ya sebegini bahagianya setelah berlelah-lelah menyiapkannya lalu melihat senyum bahagia anak-anak dan kooperatifnya para orang tua yang mendukung mereka. Allah lancarkan dan mudahkan semua kegiatan saat acara ini berlangsung. 


Di booth, anak-anak bisa merasakan pengalaman yang berhubungan dengan profesi yang dihadirkan secara langsung. Diajak menanam tanaman organik di booth Organic Farming, menghias cupcake di booth Cake Decorator, merawat gigi yang baik di booth Dokter Gigi, berinteraksi langsung dengan hewan peliharaan di Dokter Hewan, memanah di booth Archery, memakai atribut tae-kwon-do dan mencoba gerakannya di booth Klub Taekwondo, dll. Asliii, asyik banget ya..


Belum lagi, anak-anak mendapatkan banyak fasilitas, antara lain dapat snack, yogurt, poster, gantungan kunci, doorprize dan tawaran-tawaran baik dari para sponsor melalui voucher-voucher yang ada. Oh iya dapat makan siang juga, blocknote, alat tulis dll. Banyak pokoknya dapatnya hehe ….


Kebahagiaan ini mengingatkan perjalanan kami dalam menyiapkan acara besar ini. Tantangan demi tantangan kami lalui bersama dengan penuh keyakinan demi melihat anak-anak bahagia semakin dekat dengan minat dan bakat mereka. Insya Allah ceritanya aku lanjut di JCC sesi 2 ya …. Sementara, sekian dulu catatanku kali ini. Terima kasih teman-teman sudah mau meluangkan waktu untuk membaca coretanku, pelukk ….




Malang

Senin, 9 Januari 2022

#Klip_Januari _2023_5


Sabtu, 07 Januari 2023

Aku Takut Tertangkap, Lala

Matahari belum sepenuhnya naik. Langit masih mengayomi bumi dengan kehangatan mentari sebelum ia terik. Krrrkrkrkr.. Samar-samar terdengar suara Jojo memamah daun hijau pupus di pucuk dahan. Ya, Jojo si ulat hijau sudah memulai harinya dengan mengisi tenaganya di pagi hari.


Begitu pula teman-temannya, mereka mengambil posisi masing-masing. Di saat enak-enaknya Jojo dan teman-temannya memamah daun, ada seekor belalang yang mendekati Jojo.


"Hai Jojo, selamat pagi." sapanya.


"Hai Lala, pagi. Apakah kamu sudah sarapan? Kita sarapan bareng yuk!" balas Jojo.


Lalu Jojo membagi daun mudanya yang masih segar. Jojo memang suka berbagi. Dia merasa bahagia ketika telah berbagi atau menolong temannya. Seperti yang dia lakukan kepada Lala. Lala adalah teman baik Jojo yang sering mampir ke dahan di mana Jojo tinggal. Mereka pun sering bermain bersama.


Mereka tinggal di pohon Arbei yang berada di halaman rumah manusia. Di sana cukup aman untuk mereka tinggal karena daunnya sangat lebat. Hingga tiba-tiba terdengar suara, "Srrrtsrrrt ...." Suara apa itu ya? Pikir Jojo dan Lala. Namun, mereka tetap saja memamah daun dengan tenang. Suaranya kok semakin dekat ya, pikir Jojo.


Jojo pun menghentikan sarapannya dan mulai mengecek sekitarnya.


"Oh tidakkk, Lala itu ada manusia yang sedang menggergaji dahan-dahan di bawah kita. Apa yang harus kita lakukan?" Pekik Jojo pada Lala.


Sejenak Lala berpikir. Lalu, Lala pun beraksi. Dia terbang dengan cekatan ke arah kaki manusia itu dan berjalan di kakinya. Sehingga manusia itu merasakan geli. Si manusia menghentikan gerakan tangannya yang sedang menggergaji. Dan mengalihkan fokusnya pada kakinya. Lala pun terbang dengan cepat ke dahan agar tidak sampai tertangkap.


Karena tidak menemukan apa pun, manusia itu melanjutkan memotong dahan bawah pohon. Lala pun hinggap di kaki manusia itu lagi dan kali ini ia mencengkeramnya dengan kuat. Manusia itu kesakitan. Akhirnya, manusia itu pergi meninggalkan pohon Arbei dan membawa gergajinya. 


Jojo begitu lega melihat manusia itu menghentikan aksinya dan pergi.


"Terima kasih Lala, kamu sudah membantuku. Aku takut sekali kalau manusia itu sampai menemukan dan menangkap kita." ujar Jojo.


"Sama-sama Jojo. Kamu tenang saja, aku akan membantumu dengan sungguh-sungguh. Karena kamu sangat baik, kamu suka berbagi makanan dan tempat denganku. Kamu juga teman bermain yang asyik, terima kasih."




Malang

Sabtu, 7 januari 2023

#Klip_Januari _2023_4


Jumat, 06 Januari 2023

Bangunlah, Diriku, Bersemangatlah!

Credit by: Freepik.com

Beberapa hari ini aku seakan tidak bisa memahami diriku sendiri. Berbeda saat aku harus melakukan banyak aktivitas. Membuat otakku terus terjaga dan aku lebih produktif. Tetapi ketika masuk masa peralihan, aku seperti orang linglung. Bingung memulai dari mana. Tugasku sudah ngumpul dalam otak tapi aku bingung akan memulainya dari mana.

Kalau di fase sebelumnya, aku sudah bisa memahami kebutuhan istirahatku. Kapan aku lelah fisik, kapan aku lelah untuk berpikir atau kapan aku butuh jeda dari kejenuhanku melakukan sesuatu. Kontras dengan kemarin, aku tidak bisa memahami kebutuhan diriku sendiri.


Alih-alih aku ingin menyelesaikan semua tugasku, yang ada malah aku semakin tidak produktif. Aku butuh memeriksa ke dalam diriku. Masih belum kutemukan apa-apa. Aku terus saja menghindar dengan alasan aku masih ingin istirahat, aku masih butuh waktu untuk me time dll.


Kupikir ini semakin tidak sehat. Kucoba melihat lebih dalam lagi dan mencari keganjalannya. Dan akhirnya aku menemukannya.


Sepertinya, memang karena ulahku sendiri yang saat itu bilang aku sedang butuh me time. lalu aku menemukan sebuah novel online dan aku larut ke dalamnya. Inginku segera menyelesaikannya agar tidak mengganggu fokusku. Tapi setelah terus kuikuti, lama-lama aku merasa klise sekali ceritanya, persis seperti melihat sinetron Indonesia yang ratingnya tinggi sehingga episodenya pun semakin banyak.


Sempat kulihat secuplik tulisan di episode terakhir, ada sekitar 1600-an episode. Gila! Dan itu pun masih bersambung. Sayangnya, si penulis lihai sekali menguntai kata sehingga terus dibuat penasaran akan kelanjutan ceritanya, membuatku gamang antara lanjut membacanya atau kusudahi saja.


Baiklah, mungkin di sini aku butuh mengambil keputusan yang bijak untuk diriku sendiri. Setelah kupikir-pikir lagi, akhirnya aku pun mengambil pilihan. Baiklah, tak mengapa aku melanjutkan membaca kisah itu. Namun, aku perlu meluangkan cukup waktu saja untuk hal itu. Bukan seluruh waktuku yang seharusnya bisa kumanfaatkan untuk lebih produktif. Atau bahkan yang lebih berharga, yaitu membersamai anakku dengan lebih berkualitas, insya Allah.


Selanjutnya, mulai kuurai kebutuhan diriku. Kuputuskan untuk mengerjakan tugasku dari yang paling aku bisa dan kupastikan diriku sedang siap untuk melakukannya. Aku mulai bersahabat lagi dengan kondisiku. Aku menerima saat ini aku belum bisa menyelesaikan semua tugasku, tak mengapa. Memang perlu bertahap asal pasti. Menyicilnya sedikit demi sedikit. Menurunkan ekspektasi, mengapresiasi diri, dan terus bergerak maju. Aku yakin ini akan lebih ketimbang aku diam di tempat.


Di sinilah aku diuji akan komitmenku dan konsistensi yang sudah aku pilih di tahap sebelumnya. Ya Allah, tolong bantu aku terus ya. Tolong tatakan hidupku, pikiranku, hatiku, tindakanku. Agar aku bisa menjalankan peranku dengan bahagia yang bernilai ibadah dan bisa mendatangkan rahmat juga cinta-Mu. Allahumma aamiin.


Untuk diriku, terima kasih dan terus semangat ya! Aku yakin kamu bisa melakukannya dengan kesungguhan, insya Allah. Jangan menyerah! Saat-saat tantangan itu hadir pasti ada. Kamu hanya butuh terus memohon petunjuk dan semuanya pada Sang Pemberi Rahmat, juga harus terus bergerak. Tak perlu melawan arus, kamu hanya butuh membuat arus baru agar tak terbawa arus dan lupa akan jalurmu. Nikmati saja perjalananmu, dengan tetap fokus tapi tidak menggebu-nggebu. Kepakkan sayapku perlahan agar kau bisa merasakan angin di bawahmu. Terbangkan semakin tinggi agar kau bisa melihat betapa indahnya ciptaan Sang Maha Karya.




Malang, 6 Januari 2023

#Klip_Januari _2023_3

Kamis, 05 Januari 2023

Ayahku, Aku Mencintaimu

Hujan di luar mengguyur basah kebun kecilku. Mengingatkanku pada memori saat aku masih di bangku sekolah dasar. Di mana ayahku bekerja di bawah terik matahari maupun derasnya hujan. Saat ini, aku bisa bekerja di dalam rumah yang nyaman, yang tak perlu khawatir tersengat teriknya mentari, atau pun kedinginan saat hujan turun. Sangat kontras dengan perjuangan ayahku dulu.

Beliau adalah sosok tersabar yang pernah kutemui, selain suamiku. Manusia dengan toleransi sangat tinggi saat menghadapi warna-warni perkembanganku. Tidak pernah sekalipun Ayah marah (membentak) padaku, seumur hidupku. Bahkan ketika aku mendapatkan hasil yang tak sesuai ekspektasi pun, Ayah selalu memberikan dukungannya tanpa mengecilkanku.

Aku jadi ingat kata Gus Baha, yang intinya "Jadilah ayah yang baik sehingga anak-anakmu mengidolakanmu. Kalau sudah begitu maka mengajarkan kebaikan akan sangat mudah." Aku setuju sekali dengan pesan beliau. Begitu ajaibnya kata-kata ayah yang terpatri dalam alam bawah sadarku membuatku semakin bersyukur Allah menganugerahiku beliau.

Ayah tidak pernah menegurku langsung saat aku melakukan kesalahan atau menasehatiku dengan serius dalam pertemuan duduk kaku. Melainkan beliau sering memanfaatkan momen di perjalanan saat hanya mengantarku. Beliau sering bercerita masa kecilnya. Juga memberiku wejangan-wejangan dengan cara yang halus sebagai bekal hidupku.

Aku masih ingat ketika ayahku mengantarku ke SMP. Beliau sempat berpesan kelak ketika aku sudah berumah tangga, jadilah yang pertama meminta maaf ke suami saat ada cekcok. Ya, jelas aku tak sepenuhnya memahami saat itu. Namun, ketika aku sudah berumah tangga, mantra itu ampuh sekali. Dari situ, aku belajar menurunkan egoku, memfokuskan diriku pada prioritas yang ingin kami jaga, yaitu keharmonisan keluarga. Dan dari situ juga, suamiku memiliki kebiasaan baik baru, meminta maaf dengan mudah saat kami ada masalah.

Entah mengapa setiap aku jauh dari rumah, ketika aku menelepon dan mendengarkan suaranya. Aku tak kuat menahan butiran-butiran bening dari mataku. Ada kilasan-kilasan memori masa-masa perjuangannya. Ayah adalah orang yang hampir tidak pernah mengeluh, tidak pernah bilang capek atau pun menghiraukan sakitnya. Orang paling ajaib yang pernah kutemui mengingat ketepatan waktunya dalam melakukan kegiatan-kegiatannya juga saat berjanji pada orang lain, padahal ayah tidak pernah membawa arloji maupun telepon genggam.

Aku tak akan heran jika ayahku bersinggungan dengan laptop atau alat teknologi canggih lainnya. Yang membuatku heran adalah, ayahku bekerja di sawah, di pasar dan di jalan tetapi hampir bisa dipastikan tak akan terlambat menjemputku. Sungguh itu membutuhkan integritas tinggi.

Hanya sekali seumur hidupku melihatnya teramat sedih. Saat beliau dihadapkan pada kenyataan untuk "mengorbankan" keluarga kecilnya saat membantu adiknya. Namun, aku yakin tidak ada yang namanya dikorbankan, melainkan kebutuhan untuk saling mendukung satu sama lain dalam keluarga, sekalipun jalan yang dilalui mungkin akan sangat berat.

Beliau adalah sosok yang dermawan, sekalipun sebenarnya ekonominya bukan kondisi longgar. Selalu saja menyempatkan membawa barang berapa ribu saat hendak ke masjid, demi membahagiakan malaikat-malaikat kecil yang ditemuinya dalam perjalanan ke masjid.

Ayah, terima kasih, darimu aku banyak belajar. Darimu, aku merasakan cinta yang luar biasa. Di tengah sibukmu selalu kau sempatkan waktu untuk menemaniku kemana pun aku membutuhkan ayah, selalu kau sempatkan mendukungku dengan cara yang kau bisa.

Ayah, terima kasih, darimu aku belajar bersabar, aku belajar berbagi, belajar bersimpati, belajar mengasihi, belajar mencintai dan memperjuangkan cinta, belajar mengalah, dan belajar meyakini sepenuh hati apa yang sudah menjadi tekad kita. Mungkin pelajaran-pelajaran yang Ayah beri tak akan mampu kutulis di sini selengkap yang aku terima. Namun, satu yang pasti, aku mencintaimu dan aku akan berusaha sebaik mungkin menjadi putrimu.

Semoga Allah senantiasa merahmatimu, Ayah.
Menjadikanmu manusia mulia yang Allah cintai, hingga kelak Engkau bertemu dengan-Nya.
Menjagamu disetiap hembusan napasmu.
Melindungimu dari apa yang tidak Allah ridhoi.
Aku mencintaimu, Ayah.



Malang, 5 Januari 2023
#KLIP_Januari_2023_2

Rabu, 04 Januari 2023

Sahabatku

Bromo, 30 Desember 2022


Masih teringat jelas awal aku mengenalnya pertama kali. Ketika kami baru saja memasuki jenjang SMK. Kami satu kelas, dia duduk di depanku saat itu karena kami duduk berdasarkan urutan abjad nama. 

Dia teman yang asyik diajak ngobrol, pembawaannya juga tenang. Sampai-sampai teman di sampingku 'cemburu' karena akhir-akhir itu aku jadi lebih sering ngobrol dengannya ketimbang teman sebelahku. Hehe maaf ya Ron …. Dia juga selalu berusaha yang terbaik ketika mengerjakan tugas-tugas sekolah. Dan ketika dia mengalami kesulitan, dia kadang meminta tolong ke teman-teman dekat kami–laki-laki–untuk mengajarinya. Namun, seringnya teman-temanku mendahulukanku, aku pun tak tahu apa alasannya–awalnya. Hingga dia pun protes, selalu saja kalau aku yang meminta tolong didahulukan, sekalipun dia sudah mengantre sejak seminggu barang dua minggu sebelumnya. Hihi lucu kalau diingat.


Ternyata waktu berjalan dengan begitu cepat. Masa-masa bahagia saat SMK kini menjadi untaian memori manis yang tersimpan di kotak ruang hatiku tersendiri. 14 tahun tak terasa terjalani, aku bahagia menjadi sahabatnya, semoga dia pun begitu. Sosok yang lebih banyak menyimpan cerita diri ketimbang membeberkannya. Sebenarnya, kami bersahabat bertiga tetapi semenjak lulus SMK kami hampir tidak ada kesempatan berkumpul bertiga lagi. Hanya kesempatan beririsan saja. 


Kami sangat dekat semenjak berada di lingkungan yang sama kala menjalani program magang saat kelas 2 semester 2 hingga kelas 3 semester 1. Senang susah kami bersama, saling melengkapi satu sama lain. Dengan begitu, kami bisa saling memahami dengan cara masing-masing. Hingga sering tak perlu mengungkapkannya tapi dengan mudahnya mengerti maksud, mungkin itu yang disebut telepati hehe ….


Kami bukan tipe sahabat yang mudah mengungkapkan isi hati, juga tidak terbiasa foto-foto saat menghabiskan waktu bersama, tetapi dengan luwesnya saling menjaga dalam doa. Aku merasa beruntung Allah izinkan mengenal dan bersahabat dengannya. Pribadinya yang tulus, bersungguh-sungguh dan memprioritaskan orang lain dulu ketimbang dirinya membuatku belajar menjadi pribadi yang lebih baik, insya Allah.


Sebenarnya, aku kesulitan berkata-kata tentangnya. Tapi satu yang pasti, aku menyayanginya dalam doaku. Harapan terbaikku untuk kebahagiaannya, kini dan selanjutnya.


Tulisan ini aku buat khusus sebagai hadiah untuk persahabatan kami. Mengingat aku ini orang yang kurang cakap dalam memberikan hadiah. Di ujung tahun kemarin, aku mendapatkan hadiah istimewa darinya, berlibur singkat ke Bromo bersama keluarganya. Momen langka bagi kami bisa berlibur bersama setelah aku menikah. Ya, bahkan baru pertama kalinya saat itu.


Terima kasih karena itu merupakan momen yang sangat berharga untukku. Mengulang masa-masa muda dulu, di mana bromo adalah tempat anti bosan bagiku. Kenangan indah bersama teman-teman sekolah dulu. Semoga allah memberkahimu di dunia juga di akhirat kelak dan senantiasa mengumpulkan kita dalam kebaikan, sahabatku. Allahumma aamiin




Malang, 4 Januari 2023

#KLIP_Januari_2023_1