Beberapa hari ini aku seakan tidak bisa memahami diriku sendiri. Berbeda saat aku harus melakukan banyak aktivitas. Membuat otakku terus terjaga dan aku lebih produktif. Tetapi ketika masuk masa peralihan, aku seperti orang linglung. Bingung memulai dari mana. Tugasku sudah ngumpul dalam otak tapi aku bingung akan memulainya dari mana.
Kalau di fase sebelumnya, aku sudah bisa memahami kebutuhan istirahatku. Kapan aku lelah fisik, kapan aku lelah untuk berpikir atau kapan aku butuh jeda dari kejenuhanku melakukan sesuatu. Kontras dengan kemarin, aku tidak bisa memahami kebutuhan diriku sendiri.
Alih-alih aku ingin menyelesaikan semua tugasku, yang ada malah aku semakin tidak produktif. Aku butuh memeriksa ke dalam diriku. Masih belum kutemukan apa-apa. Aku terus saja menghindar dengan alasan aku masih ingin istirahat, aku masih butuh waktu untuk me time dll.
Kupikir ini semakin tidak sehat. Kucoba melihat lebih dalam lagi dan mencari keganjalannya. Dan akhirnya aku menemukannya.
Sepertinya, memang karena ulahku sendiri yang saat itu bilang aku sedang butuh me time. lalu aku menemukan sebuah novel online dan aku larut ke dalamnya. Inginku segera menyelesaikannya agar tidak mengganggu fokusku. Tapi setelah terus kuikuti, lama-lama aku merasa klise sekali ceritanya, persis seperti melihat sinetron Indonesia yang ratingnya tinggi sehingga episodenya pun semakin banyak.
Sempat kulihat secuplik tulisan di episode terakhir, ada sekitar 1600-an episode. Gila! Dan itu pun masih bersambung. Sayangnya, si penulis lihai sekali menguntai kata sehingga terus dibuat penasaran akan kelanjutan ceritanya, membuatku gamang antara lanjut membacanya atau kusudahi saja.
Baiklah, mungkin di sini aku butuh mengambil keputusan yang bijak untuk diriku sendiri. Setelah kupikir-pikir lagi, akhirnya aku pun mengambil pilihan. Baiklah, tak mengapa aku melanjutkan membaca kisah itu. Namun, aku perlu meluangkan cukup waktu saja untuk hal itu. Bukan seluruh waktuku yang seharusnya bisa kumanfaatkan untuk lebih produktif. Atau bahkan yang lebih berharga, yaitu membersamai anakku dengan lebih berkualitas, insya Allah.
Selanjutnya, mulai kuurai kebutuhan diriku. Kuputuskan untuk mengerjakan tugasku dari yang paling aku bisa dan kupastikan diriku sedang siap untuk melakukannya. Aku mulai bersahabat lagi dengan kondisiku. Aku menerima saat ini aku belum bisa menyelesaikan semua tugasku, tak mengapa. Memang perlu bertahap asal pasti. Menyicilnya sedikit demi sedikit. Menurunkan ekspektasi, mengapresiasi diri, dan terus bergerak maju. Aku yakin ini akan lebih ketimbang aku diam di tempat.
Di sinilah aku diuji akan komitmenku dan konsistensi yang sudah aku pilih di tahap sebelumnya. Ya Allah, tolong bantu aku terus ya. Tolong tatakan hidupku, pikiranku, hatiku, tindakanku. Agar aku bisa menjalankan peranku dengan bahagia yang bernilai ibadah dan bisa mendatangkan rahmat juga cinta-Mu. Allahumma aamiin.
Untuk diriku, terima kasih dan terus semangat ya! Aku yakin kamu bisa melakukannya dengan kesungguhan, insya Allah. Jangan menyerah! Saat-saat tantangan itu hadir pasti ada. Kamu hanya butuh terus memohon petunjuk dan semuanya pada Sang Pemberi Rahmat, juga harus terus bergerak. Tak perlu melawan arus, kamu hanya butuh membuat arus baru agar tak terbawa arus dan lupa akan jalurmu. Nikmati saja perjalananmu, dengan tetap fokus tapi tidak menggebu-nggebu. Kepakkan sayapku perlahan agar kau bisa merasakan angin di bawahmu. Terbangkan semakin tinggi agar kau bisa melihat betapa indahnya ciptaan Sang Maha Karya.
Malang, 6 Januari 2023
#Klip_Januari _2023_3


0 comments:
Posting Komentar