Selasa, 06 Mei 2025

Sebuah Cangkir Istimewa

 "Bunda, lihat aku punya cangkir baru. Aku bikin sendiri dari botol yakult." sambut Adik Syifa saat aku bangun. Ya, ternyata aku ketiduran sore tadi. Ngantuk yang kutahan-tahan ternyata meluap juga, menagih hutang tidur yang tadinya aku gunakan untuk menjahit kilat kebaya Adik Syifa demi upacara Hardiknas yang hemat dan tepat guna hehe.

Sambil memulihkan nyawa yang rasanya belum penuh, kucoba melihat cangkir yang ditunjukkan Adik Syifa dengan seksama. Masya Allah, seketika aku takjub. Si mungilku ini memang suka berkreasi mandiri. Diamnya produktif. Dia suka sekali memanfaatkan limbah di rumah untuk membuat handicraft sesuai imajinasinya.

Bermodalkan botol yakult yang sudah dicuci bersih, gunting imutnya, kertas bekas, dan selotip, ia menyusun bagian-bagian cangkirnya. Leher botol ia gunting menjadi cuping cangkir, lalu bagian bawah lehernya digunting zigzag terbuka--mungkin dalam imajinasinya ini adalah variasinya, aku lupa belum menanyakan ini. Cuping tadi ia lekatkan dengan badan cangkir menggunakan selotip, herannya cupingnya kokoh sekali. Lalu cangkir itu dihias menggunakan kertas bekas yang digunting dan digambari bunga-bunga lalu dilekatkan ke badan gelas secara melingkar menggunakan selotip.

Masya Allah kreatif sekali Adik ini. Cangkirnya sederhana tapi bagiku ini istimewa karena yang membuatnya anakku yang masih TK. Awalnya, kukira hanya bentuknya menyerupai cangkir dalam imajinasinya. Ternyata, cangkir itu benar-benar digunakan Adik Syifa dan Mas Fatih untuk minum hehe..

Saat ia menemukan sisa korsase mini yang kugunakan untuk aksesoris kebayanya, ia pun meminta izin menggunakan lem tembak untuk memasang korsase itu di cangkirnya. Menemani bintang kecil yang ia temukan di jalan katanya.

Terkadang hal-hal sederhana seperti ini akan menjadi bekalnya kelak dan memori istimewa untuk kami--orang tuanya. Bosan itu baik! Seperti yang selalu ayahnya sounding ke Adik Syifa dan Mas Fatih. Yap, dari bosan, imajinasinya akan berkembang. Tidak hanya stimulasi berlebih yang diproses pada otaknya akibat scrolling atau screen time berlebih.

Kami memang sepakat untuk screen time anak-anak khusus hari Sabtu dan Minggu saja + bonus saat Ramadan. Selain itu, biarkan mereka bermain dalam dunia nyata. Entah yang melibatkan fisik bersama temannya di depan rumah, atau hanya sekedar bersantai istirahat (nyatanya santainya mereka adalah berkreasi hehe, entah membuat sesuatu maupun menyusun lego/robot).

Dari secangkir imut nan istimewa ini, aku belajar untuk melihat anakku lebih dekat. Belajar untuk lebih memahaminya akan apa yang lebih ia sukai. Dari cangkir kecil ini pula aku belajar bersyukur bahwa pencapaian anak bukan hanya yang tertulis di rapor mereka, melainkan portofolio nyata yang mereka kumpulkan.

Nak, teruslah bahagia dengan kebaikan yang menyertai.
Nak, teruslah menjadi bintang yang menyinari.
Nak, teruslah saling mendukung dengan saudaramu.
Doa Ayah dan Bunda selalu membersamai kalian insya Allah.
Barokallah sayang


Malang
Selasa, 6 Mei 2025

0 comments:

Posting Komentar