Semalam, aku mendapatkan kabar ibunda Ustadzah Cholida wafat. Tanpa pikir panjang, kuniatkan untuk takziyah pagi setelah mengantarkan anak sulungku ke sekolah.
Entah kenapa kadang aku masih berusaha mencari waktu yang pas dengan jadwal keluarga kami untuk takziyah, tetapi kali ini aku ingin menyegerakannya. Aku berdoa ini menjadi kebiasaan baik baru bagiku, menyegerakan bertakziyah karena ketika menunda-nundanya tidak menutup kemungkinan akan berujung batal.
Aku datang bersama anakku yang kedua karena dia terbiasa ikut mengantarkan anak sulungku. InsyaAllah aman untuknya berada dalam suasana duka karena ini bukan hal baru untuknya. Mengingat kala itu dia menyaksikan kepulangan Akungnya. Kuniatkan ini juga untuk mengajaknya belajar bersama bagaimana kita sebaiknya bersikap ketika mendapat berita duka. Apalagi itu masih orang dekat.
Sesampainya di rumah Ustadzah, aku tetap merasakan kenyamanan, ketenangan dan kehangatan rumah itu. Sama sekali berbeda dengan suasana duka pada umumnya. Mungkin karena tak ada adegan menangis hingga sesenggukan atau bahkan berkurang kesadaran diri keluarga yang dititinggalkan. Banyak murid dan kerabat Ustadzah yang sudah hadir duluan. Aku berkumpul dengan teman-teman komunitasku. Ada rasa bahagia bisa berjumpa mereka lagi setelah aku vakum sekian bulan.
Ternyata saat itu ibunda Ustadzah masih disucikan. Setelah menunggu beberapa waktu, jenazah siap disholati. Awalnya aku sama sekali tidak tahu kabar tentang kapan beliau akan disucikan, disholati dan dimakamkan. Ternyata aku diberikan nikmat oleh Allah untuk mensholati beliau, sebagai praktik sholat jenazah secara langsung pertama kali dalam hidupku bersama jamaah yang masya Allah banyaknya.
Entah mengapa aku tidak sedih, bahkan jujur aku merasakan sebuah kebahagiaan. Lebih tepatnya aku terharu menyaksikan bagaimana anak-anak, cucu-cucu dan keluarga ibunda Ustadzah begitu menyayangi beliau. Mereka merawat ibunda Ustadzah dengan hal-hal terbaik, termasuk dengan bekal ilmu.
Sungguh sebuah nikmat yang luar biasa ketika dikaruniai keturunan yang salih-saliha, yang begitu mencintai beliau. Apa yang Allah suguhkan hari ini serasa menegurku dengan cinta-Nya. Bagaimana dengan kami? Sudahkan kami menjadi anak-anak yang demikian? Sudah berbaktikah kami? "Ya Allah, aku mohon, kelak ketika kami mengantarkan orang-orang tercinta kami, tolong izinkan kami bisa merawatnya dengan baik nggih, dengan penuh cinta dan dengan ilmu. Izinkanlah kami berpulang dan bertemu dengan-Mu dalam kondisi terbaik kami. Allahumma aamiin." Refleks kupanjatkan doa-doaku.
Sebelum ini, aku pernah ikut membersamai merawat orang tua dari orang sekitarku. Begitu sedih aku menyaksikan apa yang terjadi saat itu adalah kebalikan dari apa yang Allah hadirkan pagi ini. Di titik itu aku menyadari sesuatu. Betapa orang tua akan bahagia dunia dan akhirat ketika kita (anak-anaknya) dapat mencintai, memberikan perhatian, merawat hingga tiba masanya kita mengantarkan mereka dengan bahagia, tulus, berilmu dan cinta yang bermekaran, insya Allah. Sebaliknya, mungkin mereka akan sangat sedih ketika anak-anak mereka bahkan tak peduli pada mereka di saat mereka sakit, apalagi tak berani atau tak berkeinginan merawat mereka ketika telah berpulang.
Ketika selesai mensholati, kami bersalaman dengan Ustadzah. Aku gendong anakku untuk bisa salim juga. Ketika mendapatkan doa orang-orang baik maka itu bonus besar untuk kami. Namun, entah mengapa saat tiba giliranku, ada saja yang membuat kami tak bisa segera salaman.
Aku mengoreksi hati. Mungkin hatiku kurang bersih, niatku kurang lurus. Begitu Allah mudahkan teman-teman untuk bersalaman tadi, sedangkan aku butuh bersabar dulu. Apalagi aku sambil menggendong si kecil di tengah-tengah kerumunan jamaah yang akan bersalaman juga, bisa dibayangkan lumayan pegal rasanya hehe .... Yuk luruskan niat, bersihkan hati, ucapku pada diriku sendiri. Sekilas aku tiba-tiba terpikir, "Seperti inikah ketika di Masjidil Haram?" Ya Allah bantu aku untuk membersihkan hatiku agar bisa mendapatkan ridho-Mu dalam aktivitas yang aku lakukan.
Berikutnya, entah siapa yang memulai dengan pertanyaan atau Ustadzah refleks bercerita. Beliau menyampaikan kalau ibunda mulai bernapas berat ketika sholat Isya' rakaat ketiga. Namun, beliau dapat menyelesaikan sholat dan dzikirnya, selanjutnya beliau berpulang. Masya Allah, siapa yang tidak iri ketika mengetahui hal tersebut. Ya Allah, amalan apa yang telah beliau lakukan dan bagaimana beliau menjaga sholatnya semasa beliau hidup hingga Engkau mencabutnya dalam kondisi sedang berkomunikasi dengan-Mu?
Ustadzah pun bilang seumur hidupnya tidak pernah diperintah ibundanya, ibundanya tidak suka menyuruh-nyuruh anaknya, sebagai contoh beliau tidak pernah menyuruh mengambilkan sapu, remeh ya. Dari situ kita bisa tahu bagaimana pribadi beliau insya Allah. Masya Allah, jujur ini tidak mudah, kadang karena alasan sedikit capek aku masih saja meminta tolong pada anakku saat mereka asyik bermain bersama, sekedar untuk mengambilkan sesuatu. Benar-benar pengingat bagiku. Sebenarnya, tak masalah minta tolong, tetapi sebaiknya aku tekadkan untuk mandiri, ini juga akan memberikan contoh pada anak-anakku untuk lebih mandiri dan tidak suka memerintah, insya Allah.
Inikah yang ingin Engkau hadirkan untukku dan anakku ya Allah sehingga Engkau mengizinkanku bersalaman setelah mendengarkan pemaparan Ustadzah, bukan lebih awal. Ya Allah, mohon ampun karena aku sempat bersu'udzon pada diriku sendiri, sekalipun bertujuan untuk instropeksi diri. Sungguh, Engkau Maha Mengetahui. Alhamdulillah, segala puji untuk-Mu ya Allah, Tuhan semesta alam. Begitu indahnya Engkau menata semuanya agar kami bisa belajar lebih baik dan banyak, Insya Allah.
Air mataku baru tumpah saat aku menulis ini. Mengingat betapa beruntungnya mereka diberikan nikmat merawat orangtuanya, diberikan nikmat memiliki keturunan yang salih-saliha dan menyejukkan hati. Mengingatkanku pada ladang pahala yang Allah siapkan untuk kami. Semoga kami juga diberikan nikmat yang demikian. Allahumma aamiin.
Mama-mamaku dan Ayah-ayahku, tetiba dadaku sesak, air mataku tak tertahan, aku begitu merindukan kalian. Semoga Allah senantiasa melindungi mama-mama dan Ayah-ayah, memberikan kesehatan yang berkah juga menghindarkan dari siksa kubur juga neraka. Semoga Mama-mama dan Ayah2 bahagia di dunia dan akhirat serta Allah ampuni segala dosa dan khilaf. Allahumma aamiin.
Malang
Senin, 16 Januarui 2023
#Klip_Januari _2023_6_876

0 comments:
Posting Komentar