Kamis, 05 Januari 2023

Ayahku, Aku Mencintaimu

Hujan di luar mengguyur basah kebun kecilku. Mengingatkanku pada memori saat aku masih di bangku sekolah dasar. Di mana ayahku bekerja di bawah terik matahari maupun derasnya hujan. Saat ini, aku bisa bekerja di dalam rumah yang nyaman, yang tak perlu khawatir tersengat teriknya mentari, atau pun kedinginan saat hujan turun. Sangat kontras dengan perjuangan ayahku dulu.

Beliau adalah sosok tersabar yang pernah kutemui, selain suamiku. Manusia dengan toleransi sangat tinggi saat menghadapi warna-warni perkembanganku. Tidak pernah sekalipun Ayah marah (membentak) padaku, seumur hidupku. Bahkan ketika aku mendapatkan hasil yang tak sesuai ekspektasi pun, Ayah selalu memberikan dukungannya tanpa mengecilkanku.

Aku jadi ingat kata Gus Baha, yang intinya "Jadilah ayah yang baik sehingga anak-anakmu mengidolakanmu. Kalau sudah begitu maka mengajarkan kebaikan akan sangat mudah." Aku setuju sekali dengan pesan beliau. Begitu ajaibnya kata-kata ayah yang terpatri dalam alam bawah sadarku membuatku semakin bersyukur Allah menganugerahiku beliau.

Ayah tidak pernah menegurku langsung saat aku melakukan kesalahan atau menasehatiku dengan serius dalam pertemuan duduk kaku. Melainkan beliau sering memanfaatkan momen di perjalanan saat hanya mengantarku. Beliau sering bercerita masa kecilnya. Juga memberiku wejangan-wejangan dengan cara yang halus sebagai bekal hidupku.

Aku masih ingat ketika ayahku mengantarku ke SMP. Beliau sempat berpesan kelak ketika aku sudah berumah tangga, jadilah yang pertama meminta maaf ke suami saat ada cekcok. Ya, jelas aku tak sepenuhnya memahami saat itu. Namun, ketika aku sudah berumah tangga, mantra itu ampuh sekali. Dari situ, aku belajar menurunkan egoku, memfokuskan diriku pada prioritas yang ingin kami jaga, yaitu keharmonisan keluarga. Dan dari situ juga, suamiku memiliki kebiasaan baik baru, meminta maaf dengan mudah saat kami ada masalah.

Entah mengapa setiap aku jauh dari rumah, ketika aku menelepon dan mendengarkan suaranya. Aku tak kuat menahan butiran-butiran bening dari mataku. Ada kilasan-kilasan memori masa-masa perjuangannya. Ayah adalah orang yang hampir tidak pernah mengeluh, tidak pernah bilang capek atau pun menghiraukan sakitnya. Orang paling ajaib yang pernah kutemui mengingat ketepatan waktunya dalam melakukan kegiatan-kegiatannya juga saat berjanji pada orang lain, padahal ayah tidak pernah membawa arloji maupun telepon genggam.

Aku tak akan heran jika ayahku bersinggungan dengan laptop atau alat teknologi canggih lainnya. Yang membuatku heran adalah, ayahku bekerja di sawah, di pasar dan di jalan tetapi hampir bisa dipastikan tak akan terlambat menjemputku. Sungguh itu membutuhkan integritas tinggi.

Hanya sekali seumur hidupku melihatnya teramat sedih. Saat beliau dihadapkan pada kenyataan untuk "mengorbankan" keluarga kecilnya saat membantu adiknya. Namun, aku yakin tidak ada yang namanya dikorbankan, melainkan kebutuhan untuk saling mendukung satu sama lain dalam keluarga, sekalipun jalan yang dilalui mungkin akan sangat berat.

Beliau adalah sosok yang dermawan, sekalipun sebenarnya ekonominya bukan kondisi longgar. Selalu saja menyempatkan membawa barang berapa ribu saat hendak ke masjid, demi membahagiakan malaikat-malaikat kecil yang ditemuinya dalam perjalanan ke masjid.

Ayah, terima kasih, darimu aku banyak belajar. Darimu, aku merasakan cinta yang luar biasa. Di tengah sibukmu selalu kau sempatkan waktu untuk menemaniku kemana pun aku membutuhkan ayah, selalu kau sempatkan mendukungku dengan cara yang kau bisa.

Ayah, terima kasih, darimu aku belajar bersabar, aku belajar berbagi, belajar bersimpati, belajar mengasihi, belajar mencintai dan memperjuangkan cinta, belajar mengalah, dan belajar meyakini sepenuh hati apa yang sudah menjadi tekad kita. Mungkin pelajaran-pelajaran yang Ayah beri tak akan mampu kutulis di sini selengkap yang aku terima. Namun, satu yang pasti, aku mencintaimu dan aku akan berusaha sebaik mungkin menjadi putrimu.

Semoga Allah senantiasa merahmatimu, Ayah.
Menjadikanmu manusia mulia yang Allah cintai, hingga kelak Engkau bertemu dengan-Nya.
Menjagamu disetiap hembusan napasmu.
Melindungimu dari apa yang tidak Allah ridhoi.
Aku mencintaimu, Ayah.



Malang, 5 Januari 2023
#KLIP_Januari_2023_2

0 comments:

Posting Komentar