Kelompok : WAG 7 - Peran Ayah terhadap Pendidikan Seksualitas Anak
Subkelompok : Support Bunda Agar Ayah Terlibat dalam Pendidikan Seksualitas
Ceritaku Hari Ini
Alhamdulillah, Sabtu yang semarak di kota kami. Di mana-mana karnaval, dan jalan ditutup. Walaupun pagi-pagi banget sudah berputar-putar untuk mencari jalan pulang, tidak menyurutkan semangat mengikuti progres belajar di WAG 7.
Senang sekali teman-teman pada aktif dan saling support. Ada yang bertanya tentang kesulitannya mengajak ayah agar terlibat dalam pengasuhan anak-anak. Lalu teman-teman yang lain sharing pengalamannya bagaiamana mengajak pasangannya hingga pasangannya bahagia terlibat dalam pengasuhan anak-anaknya.
Alhamdulillah, hari ini disepakati ada 8 subtema yang menjadi outline presentasi nantinya. Lalu dibentuk kelompok sejumlah subtemanya. Aku memilih subtema 8, yaitu support bunda agar ayah terlibat dalam pendidikan seksualitas.
- Gambaran peran ayah yang ada di Indonesia
- Tantangan yang dihadapi ayah dalam proses pengasuhan
- Faktor penyebab ayah tidak terlibat pengasuhan
- Masalah yang muncul dari ketidakhadiran ayah dalam proses pengasuhan
- Seberapa penting peran ayah dalam proses pengasuhan terutama dalam pendidikan seksualitas
- Contoh konkret peran ayah dalam pendidikan seksualitas
- Support bunda agar ayah terlibat dalam pendidikan seksualitas
- Sifat Keayahan sebagai keteladanan
Hal baik berkaitan dengan pendidikan seksualitas yang diperoleh selama berinteraksi dengan anggota kelompok
Ada beberapa poin yang bisa aku tangkap dari diskusi hari ini yang berkaitan dengan pendidikan seksualitas, antara lain:
Ada teman-teman yang merasa mengajak pasangan agar mau terlibat dalam pengasuhan adalah sebuah tantangan tersendiri. Menurutku ini memang banyak faktor yang memengaruhi juga, tetapi dilihat dari sisi istri, kita punya pilihan untuk mensupport suami agar mau terlibat.
Alih-alih memberikan arahan/mengajak pasangan, tanpa disadari ternyata justru menuntut. Akhirnya suami merasa makin pusing, bingung dimulai dari mana, akhirnya semakin kusut benang komunikasi antara suami dan istri.
Aku teringat pesan Bu Abyz, guruku di sekolah parenting Harum dulu bahwa pamaeter perubahan keluarga adalah kita yang berubah, bukan pasangan dulu atau anak-anak. Jadi, mari kita mulai dari diri kita.
- Tumbuhkan empati kepada pasangan sehingga bisa berpikir dari sudut pandangnya
- Bangun momen bersama pasangan, misal membersamainya dalam melaksanakan pekerjaannya di rumah atau saat istirahat. Jadilah teman yang baik untuk pasangan kita. Bisa dengan menyuguhkan minuman hangat dan cemilan untuk membangun suasana yang syahdu dahulu. Lalu memulai obrolan dengan hal-hal yang ringan terlebih dahulu.
- Jika sudah terbentuk budaya ngobrol bersama pasangan, insya Allah akan memudahkan diskusi dengan tema yang berat, diobrolkan dengan santai.
- Saat komunikasi efektif dan produktifnya sudah jalan, insya Allah suami lebih mudah diajak kerja sama.
- Membudayakan ringan hati dalam mengapresiasi pasangan untuk mengisi tangki cintanya.
- Mudah dalam meminta maaf agar pasangan pun mudah menyadari kesalahannya dan nyetrum budaya baiknya untuk mengikis ego dalam mengakui kesalahan dan meminta maaf.
Rizki Anggarsasi Suwandari
IP Malang Raya
Minggu, 27 Agustus 2023
#tantanganzona7
#pendidikanseksualitas
#harike-5
#bundasayang8
#institutibuprofesional
#ibuprofesionaluntukindonesia
#bersinergijadiinspirasi
#ip4id2023

0 comments:
Posting Komentar