Hampir 2 minggu aku tertatih berjalan, puncaknya seminggu penuh aku tak bisa mengantar dan menjemput anak sulungku saat bersekolah. Ternyata, luka kecil pun tak boleh disepelehkan. Harus ditangani dengan baik dan dipastikan tuntas. Agar tidak menjadi PR di kemudian hari. Seperti yang kualami, luka infeksi yang cukup serius hanya dikarenakan gatal di area kecil saja.
Namun, di balik sakit yang Allah berikan ternyata banyak sekali nikmat yang aku rasakan, alhamdulillah. Walaupun tetap saja, aku tak ingin sakit seperti itu lagi karena itu akibat dari kelalaianku.
Alhamdulillah, Allah berikan aku ketenangan dan ketentraman hati saat masa perawatan dan pemulihan. Tidak keluar kata-kata yang tipis syukur, itu sudah merupakan nikmat dan rahmat Allah yang membuatku semakin bersyukur. Sambil terus instropeksi diri dan juga berusaha memperbaikinya membuatku semakin memperkaya makna syukur atas sakit yang Allah berikan.
Kenikmatan lain yang kurasakan, yaitu saat tertatih dan kesulitan mengerjakan aktivitas harianku, Allah kirimkan pasukan alit yang menjadi penyejuk mata dan hati. Masya Allah.
"Bunda, Bunda tenang saja. Aku aja yang ngambilkan minum untuk Bunda. Kalau Bunda butuh bantuan, Bunda bilang aja ya." Masya Allah, kata-kata sederhana itu begitu menyejukkan hati. Anak-anak kami saling bekerja sama untuk membersamaiku selama aku sakit. Inisiatif mereka untuk membantuku sering muncul tanpa aku minta.
Saat aku mau minum obat, putriku mengambilkan dan menyiapkannya untukku. Ketika memasuki waktu Subuh, putra sulungku bangun lalu membuka semua selambu dan jendela rumah. Begitu juga menjelang Maghrib, mereka menutup semua jendela dengan memanjat kursi. Mereka juga semakin mandiri untuk keperluan pribadi mereka. Makan mandiri, cebok mandiri, main berdua dll. Tabarokallah, Nak.
Alhamdulillah, usia kalian masih 4 & 5 tahunan, tetapi kepedulian dan kemandirian kalian membuat Bunda dan Ayah begitu berbunga-bunga. Semoga Allah senantiasa menjaga berkembangnya fitrah-fitrah itu dalam diri kalian. Memberikan kebaikan untuk kalian juga sekitar.
Aku jadi teringat pesan Bu Abyz, guruku di sekolah parenting Harum tentang menumbuhkan kesadaran anak untuk mandiri dan berbuat baik. Tantangan orang tua adalah "menumbuhkan kesadaran" bukan hanya mereka "bisa melakukannya dengan iming-iming reward". Karena ketika mereka sadar, berarti mereka paham kebutuhan mereka untuk melakukannya.
Prosesnya panjang ya? Pasti hihi.. Menumbuhkan kesadaran bukan perkara sederhana tapi bisa dimulai dari hal-hal yang sederhana. Memberikan contoh nyata, mengajak, melibatkan anak-anak langsung, mengapresiasinya dan terus memotivasi mereka. Fokus pada proses membuat kita lebih enteng hati ketika anak-anak belum menjadi seperti yang kita inginkan. Fokus pada proses membuat kita tidak rentan kecewa. Fokus pada proses membuat kita jauh lebih bisa menikmati kebersamaan dengan anak-anak. Sehingga ketulusan dan keikhlasan kita dalam membersami anak-anak bisa lebih terjaga, insya Allah.
Semoga Allah senantiasa menjaga fitrah mereka serta membimbing dan melindungi kita dalam membersamai mereka. Yuk jadi orang tua bahagia yang bisa jadi sahabat untuk anak-anak kita.
Malang
Kamis, 2 Februari 2023
#Klip_Februari _2023_1
Kamis, 02 Februari 2023
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

0 comments:
Posting Komentar