1. Poin Komunikasi Produktif yang kulatih hari ini :
- Look for the Response
- Choose the Right Time
- Choose the Right Time
2. Partnerku berlatih komunikasi produktif hari ini adalah Mama
3. Kesimpulan dari hasil latihanku hari ini:
- Apa yang sudah baik dari latihan komunikasi produktifku hari ini:
Alhamdulillah, kali ini quality time dengan Mama ketika ada waktu yang menurutku pas. Ngobrolin banyak hal tentang keluarga dan yang berhubungan. Alhamdulillah bisa ngobrol dengan lebih terbuka dan santun insya Allah, menyampaikan uneg-uneg anak-anaknya, mencari solusi praktis yang sekiranya paling mungkin/mudah untuk dilakukan.
- Apa yang ingin kuperbaiki untuk latihan besok?
*Lebih banyak waktu berkualitas dengan Mama Ayah
*Menyederhanakan pikiran agar bisa melihat peluang solusi dari permasalahan yang ada
Jurnal Latihan Komunikasi Produktifku
Hari ke-12
Alhamdulillah, pagi ini rencananya aku pulang ke rumahku pagi-pagi. Namun, karena Mama ingin membuatkan menu andalan keluarga untuk kubawa pulang, jadi aku menunda kepulanganku. Sambil memasak kami mengobrol santai. Setelah memasak dan sarapan, kami ngobrol lebih banyak dan dalam. Aku sharing ke Mama tentang Qtime-ku dan adik-adik. Mama terharu, dan dari situ kusampaikan dengan mempertimbangkan respons Mama sebelumnya.
Pelan-pelan kusampaikan keinginan Adik bontot kalau dia ingin punya teman curhat yang dia bisa bebas menyampaikan apa saja, pingin kompak sama Mama, dll. Kusampaikan juga tips-tips komunikasi yang mungkin bisa dilakukan dini. Dimulai dari hal yang sederhana untuk menguatkan bonding. No espectation first. Why? Karena dengan kita berekspektasi terhadap yang kita tuju, membantu kita untuk bisa lebih rileks menikmati waktu-waktu berinteraksi sehingga tidak sedikit-sedikit ceramah, melarang, dsb. Namun, bisa jadi teman ngobrol yang asyik. Dan komunikasi itu adalah ilmu yang butuh proses untuk mempraktekkannya, bertahap, pelan-pelan, dinikmati.
Dari situ pelan-pelan bangun bonding, dan mengarahkan pelan-pelan. Aku sharing bagaimana aku pelan-pelan meruntuhkan batasku dengan Adik Tengah dulu karena aku pernah begitu kaku padanya. Ya, aku sadari dan akui setelah suamiku mengingatkanku bahwa yang membuatku demikian adalah tingginya ekspektasiku yang berlawanan dengan kenyataan. Dengan menerima apa adanya, aku jadi lebih rileks dan siap support dia bertahap.
Alhamdulillah, aku merasa Mama bisa merasakan dan menerima apa yang aku sampaikan. Beliau sempat menangis, mungkin rasanya campur aduk tapi alhamdulillah, dari kebiasaan Mama, kutangkap Mama tidak merasa terpojok dan mau menikmati diskusi yang seru tadi hingga selesai. Bahkan selesainya karena panggilan hehe bukan karena diselesaikan. Saking asyiknya jadi berasa pingin lanjut terus.
Alhamdulillah, masya Allah, segala puji bagi Allah. Yang memberikan kami petunjuk-Nya dan kemudahan belajar insya Allah
Nb : Alhamdulillah, ilmu-ilmu yang Allah hadirkan adalah kenikmatan yang istimewa. Ilmu komunikasi ini kupelajari awalnya dari beberapa sumber, dan yang renyah dalam ingatanku adalah blog Agnes Triharjaningrum, tulisan-tulisan Teh Kiki Barkiah, Sekolah Parenting Harum (Bu Abyz), teman-teman admin di KTR Akhawat, lalu lanjut di Bunsay ini. Rasanya masya Allah deretan indah. Terima kasih banyak untuk orang-orang yang Allah kirimkan sebagai agen ilmuku, pelukkk, barokallah.
Rizki Anggarsasi Suwandari
IP Malang Raya
Minggu, 21 Mei 2023
#tantanganzona2
#harike-12
#bundasayang8
#institutibuprofesional
#ibuprofesionaluntukindonesia
#bersinergijadiinspirasi
#ip4id2023
Pelan-pelan kusampaikan keinginan Adik bontot kalau dia ingin punya teman curhat yang dia bisa bebas menyampaikan apa saja, pingin kompak sama Mama, dll. Kusampaikan juga tips-tips komunikasi yang mungkin bisa dilakukan dini. Dimulai dari hal yang sederhana untuk menguatkan bonding. No espectation first. Why? Karena dengan kita berekspektasi terhadap yang kita tuju, membantu kita untuk bisa lebih rileks menikmati waktu-waktu berinteraksi sehingga tidak sedikit-sedikit ceramah, melarang, dsb. Namun, bisa jadi teman ngobrol yang asyik. Dan komunikasi itu adalah ilmu yang butuh proses untuk mempraktekkannya, bertahap, pelan-pelan, dinikmati.
Dari situ pelan-pelan bangun bonding, dan mengarahkan pelan-pelan. Aku sharing bagaimana aku pelan-pelan meruntuhkan batasku dengan Adik Tengah dulu karena aku pernah begitu kaku padanya. Ya, aku sadari dan akui setelah suamiku mengingatkanku bahwa yang membuatku demikian adalah tingginya ekspektasiku yang berlawanan dengan kenyataan. Dengan menerima apa adanya, aku jadi lebih rileks dan siap support dia bertahap.
Alhamdulillah, aku merasa Mama bisa merasakan dan menerima apa yang aku sampaikan. Beliau sempat menangis, mungkin rasanya campur aduk tapi alhamdulillah, dari kebiasaan Mama, kutangkap Mama tidak merasa terpojok dan mau menikmati diskusi yang seru tadi hingga selesai. Bahkan selesainya karena panggilan hehe bukan karena diselesaikan. Saking asyiknya jadi berasa pingin lanjut terus.
Alhamdulillah, masya Allah, segala puji bagi Allah. Yang memberikan kami petunjuk-Nya dan kemudahan belajar insya Allah
Nb : Alhamdulillah, ilmu-ilmu yang Allah hadirkan adalah kenikmatan yang istimewa. Ilmu komunikasi ini kupelajari awalnya dari beberapa sumber, dan yang renyah dalam ingatanku adalah blog Agnes Triharjaningrum, tulisan-tulisan Teh Kiki Barkiah, Sekolah Parenting Harum (Bu Abyz), teman-teman admin di KTR Akhawat, lalu lanjut di Bunsay ini. Rasanya masya Allah deretan indah. Terima kasih banyak untuk orang-orang yang Allah kirimkan sebagai agen ilmuku, pelukkk, barokallah.
Rizki Anggarsasi Suwandari
IP Malang Raya
Minggu, 21 Mei 2023
#tantanganzona2
#harike-12
#bundasayang8
#institutibuprofesional
#ibuprofesionaluntukindonesia
#bersinergijadiinspirasi
#ip4id2023


0 comments:
Posting Komentar