1. Poin Komunikasi Produktif yang kulatih hari ini adalah Nalar Panjang, Emosi Rendah
2. Partnerku berlatih komunikasi produktif hari ini adalah Mas dan Adek (anak-anakku)
3. Kesimpulan dari hasil latihanku hari ini:
- Apa yang sudah baik dari latihan komunikasi produktifku hari ini:
Belajar memahami yang dirasakan anak-anak, baru kemudian menjelaskan dari sisi orang tua dan menyederhanakan nalar agar mudah diterima anak-anak.
- Apa yang ingin kuperbaiki untuk latihan besok?
Belajar bersabar, apa pun kondisiku, aku tetap perlu belajar untuk memperluas sabarku sehingga nalarku lebih panjang dan bisa lebih bersahabat dengan anak-anak dan orang-orang sekitarku, insya Allah.
Jurnal Latihan Komunikasi Produktifku
Hari ke-2
Hari ini aku bersyukur bisa memiliki banyak waktu bersama anak-anak, sesuai dengan hasil komprod kemarin bersama suami. Adek semakin mandiri dan no drama at all di sekolah. Alhamdulillah..
Lalu sepulang Mas dan Adek sekolah, kami berkeliling perumahan di sekitar sekolah, lanjut menikmati bermain di rerumputan. Bercengkramah dengan si Putri Malu dan beberapa macam semak-semak yang ada. Alhamdulillah, Mas dan Adek senang banget. Bunda dan Ayah pun ikut senang. Sesederhana itu bahagia mereka masya Allah..
Namun, tantangan muncul di sore hari ketika kami sedang membelanjakan tabungan Mas dan Adek yang sudah kebagi 3 sebelumnya, yaitu untuk amal, tabungan, dan beli mainan. Adek dapat 5 item edutoys, sedangkan Mas dapat 1 item robot saja. Sebenarnya total harganya sama, hanya saja harga per itemnya yang berbeda.
Si Mas pun protes sambil nangis. Kuajak menenangkan diri dulu dengan menarik napas beberapa kali dan kuberikan sentuhan ringan. Setelah itu, kami pun mengobrol santai. Kuberi penjelasan mengapa dapatnya berbeda. Dan Mas punya kesempatan yang sama untuk mendapatkan 5 item jika Mas mau memilih jenis mainan dengan harga yang lebih hemat. Ia pun tergiyur untuk memilih edutoys seperti adeknya.
Agar lebih mudah menerimanya, aku membuat contoh pembagian uangnya menggunakan 2 lidi dengan panjang yang sama lalu kupatahkan sesuai dengan jumlah yang didapat Mas dan Adek sambil kuberi alasannya. Alhamdulillah, Mas senyum-senyum dapat penjelasan itu. Clear, insya Allah..
Hmm, jadi teringat kata Mbak Hamidah. Kita pernah jadi anak-anak, sedangkan mereka belum pernah menjadi dewasa. Ya Allah, beri kami sabar ya, sekalipun sebenarnya badan berasa remuk dan lelah banget. Luaskan cinta kami ya ya Allah. Semangat bahagia bersama. Allahumma aamiin..
-----------
Hari ini bonus maen bareng --> melukis bebas di kardus, membuat mobil-mobilan sederhana dari kardus (yang ternyata sobek duluan sebelum didokumentasikan hehe), dan menggambar bebas dari angka-angka. Love you, Nak.
Bunda Ayah minta maaf ya, kadang masih ngegas atau kurang antusias saat lelah melanda. Terima kasih sudah mau mengungkapkan isi hati kalian dan mau bertanya mengapa sikap Bunda Ayah demikian. Semoga kita senantiasa diberi petunjuk, dilindungi, dan diingatkan dengan cara yang baik ya, Nak, ketika salah. Allahumma aamiin.
Lalu sepulang Mas dan Adek sekolah, kami berkeliling perumahan di sekitar sekolah, lanjut menikmati bermain di rerumputan. Bercengkramah dengan si Putri Malu dan beberapa macam semak-semak yang ada. Alhamdulillah, Mas dan Adek senang banget. Bunda dan Ayah pun ikut senang. Sesederhana itu bahagia mereka masya Allah..
Namun, tantangan muncul di sore hari ketika kami sedang membelanjakan tabungan Mas dan Adek yang sudah kebagi 3 sebelumnya, yaitu untuk amal, tabungan, dan beli mainan. Adek dapat 5 item edutoys, sedangkan Mas dapat 1 item robot saja. Sebenarnya total harganya sama, hanya saja harga per itemnya yang berbeda.
Si Mas pun protes sambil nangis. Kuajak menenangkan diri dulu dengan menarik napas beberapa kali dan kuberikan sentuhan ringan. Setelah itu, kami pun mengobrol santai. Kuberi penjelasan mengapa dapatnya berbeda. Dan Mas punya kesempatan yang sama untuk mendapatkan 5 item jika Mas mau memilih jenis mainan dengan harga yang lebih hemat. Ia pun tergiyur untuk memilih edutoys seperti adeknya.
Agar lebih mudah menerimanya, aku membuat contoh pembagian uangnya menggunakan 2 lidi dengan panjang yang sama lalu kupatahkan sesuai dengan jumlah yang didapat Mas dan Adek sambil kuberi alasannya. Alhamdulillah, Mas senyum-senyum dapat penjelasan itu. Clear, insya Allah..
Hmm, jadi teringat kata Mbak Hamidah. Kita pernah jadi anak-anak, sedangkan mereka belum pernah menjadi dewasa. Ya Allah, beri kami sabar ya, sekalipun sebenarnya badan berasa remuk dan lelah banget. Luaskan cinta kami ya ya Allah. Semangat bahagia bersama. Allahumma aamiin..
-----------
Hari ini bonus maen bareng --> melukis bebas di kardus, membuat mobil-mobilan sederhana dari kardus (yang ternyata sobek duluan sebelum didokumentasikan hehe), dan menggambar bebas dari angka-angka. Love you, Nak.
Bunda Ayah minta maaf ya, kadang masih ngegas atau kurang antusias saat lelah melanda. Terima kasih sudah mau mengungkapkan isi hati kalian dan mau bertanya mengapa sikap Bunda Ayah demikian. Semoga kita senantiasa diberi petunjuk, dilindungi, dan diingatkan dengan cara yang baik ya, Nak, ketika salah. Allahumma aamiin.
Rizki Anggarsasi Suwandari
IP Malang Raya
Kamis, 11 Mei 2023
#tantanganzona2
#harike-2
#bundasayang8
#institutibuprofesional
#ibuprofesionaluntukindonesia
#bersinergijadiinspirasi
#ip4id2023




0 comments:
Posting Komentar