Sabtu, 21 Maret 2015

Mari Bersyukur

Tadi waktu di jalan tiba-tiba terlintas pikiran pengen punya gaun, namanya juga wanita :D sudah kepala 2 belum punya baju untuk kondangan ya masih adalah namanya kepengenan :P Eh terlihat seorang Bapak yang membawa dua tumpuk keset sedang menjajakan dagangannya. Langsung bilang ke diri sendiri, boro-boro beli gaun, itu Bapaknya masih butuh uluran tangan kita (akan jauh lebih bermanfaat jika disalurkan pada mereka yang membutuhkan, walaupun sesekali juga boleh hehe).

Sepertinya, aku mengenal sosok itu. Ternyata benar, beliau adalah Bapak penjual keset yang sama dengan yang aku temui di depan SOB. Seorang Bapak yang berkata padaku "Lha bagaimana lagi mbak, namanya juga demi anak istri". Rumah beliau di Pandaan jadi untuk menghemat pengeluaran, beliau tidur di depan rumah kosong atau toko tutup dan baru akan pulang ketika kesetnya habis atau pendapatannya cukup untuk beli beras. Bajunya sudah tak terlihat lagi model krahnya dan lipatan-lipatan kulit di bahunya itu menandakan bahwa beliau sudah lama memikul beban yang berat itu (mengingatkan pada ayahku yang juga biasa mindah berkarung-karung gabah, semoga kalian selalu dilimpahi Allah kesehatan aamiin).

Malamnya ketemu anak perempuan yang berkeliling untuk menjajakan gorengan, jagung rebus, kolak dan kue. Sudah menjadi kebiasaanku bertanya ini itu kepada pedagang yang kutemui, maaf bukan berniat kepo tapi itu bisa menjadi pelajaran manis untukku. Seperti adek ini contohnya, mengajariku untuk terus bersyukur dan tidak mudah menyerah begitu saja. Adek ini masih kelas 3 SD tapi sedari ashar hingga sekitar jam 9 malam menjajakan kuenya. Kapan waktunya dia belajar dan bermain?

Teringat kata temanku yang bilang kalau adek ini menaruh dagangannya di dekatnya seraya dia menggambar sesuatu di tanah. Mungkinkah cita-citanya? Oh Tuhan beri dia kemudahan untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik dan bertambahlah syukurnya, aamiin. Adek ini pernah bercerita - ketika seorang ibu menanyainya - kalau dia 3 bersaudara, ibunya bekerja menjadi asisten rumah tangga, sedangkan ayahnya sudah menikah lagi. Bayangkan, adek ini masih kelas tiga tapi sudah mengalami realita semacam itu. Sungguh malu ketika aku bilang, "aku lelah". 

Alhamdulillah hidupku berkecukupan. Sejak kecil ayah dan ibuku mengajariku mandiri, selain memang keadaan waktu itu yang harus "tirakat". Jaman TK membuat wayang-wayangan dari kertas yang diajarkan ayah yang kemudian aku jual @Rp 100,- waktu itu, biar bisa beli jajan. Ketika di sekolah dasar aku membantu ibu dengan jualan rujak manis di sekolah yang dibuat ibuku. Waktu liburan sekolah, aku pinjam buku ke kakak2 kelas biar bisa mengikuti pelajaran dengan lancar tanpa harus memeras keringat ayah ibuku lebih banyak lagi untuk membeli buku paket, kemudian aku cocokkan halamannya, aku tulis satu persatu biar enak waktu dipakai. Karena tiap tahun halamannya akan berubah, tapi isinya jarang sekali ada perubahan drastis, mungkin hanya 1 atau 2 halaman saja yang berubah sehingga mempengaruhi urutan halaman yang lain.

Uang saku Rp 200,- atau Rp 300,- rupiah itu sudah syukur, kalau ada yang kasih lebih, alhamduLillah hehe. Hingga setelah lulus SMK,biar bisa kuliah aku nyambi kerja dan cari beasiswa. Tapi sungguh Maha Penyayang Allah yang selalu memberiku jalan untuk mensyukuri nikmat-Nya. Saat hatiku mulai gundah atau merasa lelah, Allah mengirimiku malaikat seperti mereka, sehingga NGGAK ADA ALASAN untuk nggak bersyukur dan menyerah begitu saja. Terima kasih ya Allah, segala puji bagi-Mu, Tuhan semesta alam :)

*tulisan ini sengaja saya publikasi agar kita bisa mengambil hikmah, belajar dan menjaga rasa syukur kita, insyaAllah, semoga tidak ada sebersit niat takabur dihati saya aamiin, semoga bermanfaat :)


Malang, 16 Maret 2015

1 komentar: