Jumat, 01 Agustus 2014

Pertukaran Pelajar Indonesia-Singapore

credit: vulcanpost.com

“Ah, enaknya tidur ya” gumamku kala itu sambil berusaha membuka mata sekuat tenaga. Mengajak otak untuk bekerja dengan baik dikala sangat mengantuk memang bukan tugas yang mudah. Bayang-bayang nikmatnya tidur tengah malam tak henti-hentinya melintas. Namun, tekadku sudah bulat. Aku memilih untuk menyelesaikan babak ini dengan baik. Aku punya mimpi dan kini kesempatan itu sudah di depan mata. Satu tahap lagi dan hap!

Selama seminggu penuh, setiap tengah malam aku berusaha menyelesaikan tantangannya. Mempelajari teknologi yang benar-benar baru untukku secara mandiri ditengah padatnya tugas kampus dan pekerjaan paruh waktu. Mencari dan mengerucutkan ide lalu membuat cetak biru agar lebih mudah dipahami oleh para juri nantinya. “Ya Allah, tolong mudahkan, amin!”

Kutambah satu langkah lagi. Aku mengurus paspor dengan harapan bisa menjemput impianku. Seandainya kelak aku terpilih, aku sudah tidak perlu bingung untuk riwa-riwi lagi, pikirku. Kalau pun tidak terpilih, tak apa-apa, tak ada yang sia-sia, sambil terus kukuatkan keyakinanku semoga aku menjadi salah satu yang terpilih. Lagi pula, mengurus paspor secara online membuat waktu makin efisien, tidak butuh mengantre lama di kantor imigrasi.

Pengumuman Seleksi terpampang di majalah dinding kampus. Namaku tertulis di daftar peserta yang lolos seleksi. Alhamdulillah, satu langkah sudah terlewati. Student Exchange Scholarship with Republic Polytechnic by Temasek Foundation Singapore. Sebuah program pertukaran pelajar dengan kampus Republic Polytechnic Singapore yang dibiayai penuh oleh Temasek Foundation Singapore.

Alhamdulillah, terima kasih untuk orang tua dan sahabat yang senantiasa menyemangatiku agar tak menyerah dengan mimpiku. Meyakinkanku agar bisa membuat proposal mengenai rancangan ideku secara mandiri. Taraa, mimpi itu nyata, alhamdulillah. 


—---------------


Nyasar! 


Katanya, orang Singapura dan Malaysia itu suka bilang “Indon, Indon” untuk mengatai orang Indonesia. Begitu salah satu komentar yang kerap aku dengar dari temanku. “Ah, masak sih. Aku yakin mereka baik-baik. Jangan disamaratakanlah!” batinku.

*

Hari pertamaku di RP (Republic Polytechnic) sangat menyenangkan walaupun cuaca di Woodlands terasa sangat panas. Setelah mengikuti acara di beberapa ruangan dan hall. Kami pun pulang ke apartment kampus bersama-sama. Namun, karena tiba-tiba ingin pipis, aku mampir ke toilet dulu. Saat keluar dari toilet ternyata teman-temanku sudah tidak ada di sekitarnya. Waduh, aku lupa jalan pulang ini!

Aku mencoba mencari jalan pulang hingga aku bertemu dengan sekelompok mahasiswa RP yang mau pulang.

Where will you go?”

I will go to my apartment but I dunno the way

Oh, no! Do you know that you will go out from campus area?

Woah, ternyata aku salah jalan. Aku berjalan menuju luar kampus, ke arah depan. Sedikit lagi, aku sudah berada di luar kampus. Sebaliknya, seharusnya aku berjalan ke arah belakang kampus, area apartment. Lalu mereka mengantarku sampai di apartment-ku. MasyaAllah, mereka baik sekali. Jalannya pun cukup jauh untuk kembali ke depan kampus agar mereka bisa pulang. Pengalaman pertamaku yang terus teringat hingga saat ini. Mereka baik!


—---------------------------


Mengenal Singapura melalui Challenge : Mission Completed!


Sejak awal kami datang ke RP, program ini terasa sangat asyik. Setiap bagiannya menghadirkan keseruan yang membuat semangat terus membara mengikuti setiap step hingga acaranya berakhir. Mereka mengatur sedemikian rupa sehingga kami dengan mudah mengikuti aturan mainnya, menyuarakan opini kami, merasakan jadi diri sendiri yang bahagia, menghargai keberagaman budaya, serta menjadi tim yang solid.


Keseruan bareng tim saat refleksi diri

Rangkaian kegiatan ini pada dasarnya selain untuk bekerja sama dibidang pendidikan juga untuk mengenalkan Singapura kepada mahasiswa ASEAN, antara lain Indonesia, Kamboja, dan Filipina. Kelak pada gilirannya, kami pun akan mengenalkan negara kami kepada mahasiswa Singapura. Pengenalan ini dibagi menjadi 5 sektor yaitu ekonomi, sejarah, politik, budaya, dan pariwisata. Setiap sektor dikenalkan dengan mengunjungi destinasi terkait lalu kami dibekali sebuah misi yang harus diselesaikan oleh tiap-tiap kelompok. 

Sebagai pengenalan pada sektor ekonomi Singapura, kami diajak mengunjungi Orchard Road, pusat perbelanjaan di Singapura yang terdiri dari deretan mall-mall mewah dengan selingan resto eksklusif di sekitarnya. Di sana, kami diberi misi untuk menemukan beberapa poin penting mengenai Orchard Road. Misalnya, plang nama jalan, nama mall, iconic setempat dan lain-lain. Setiap kelompok memiliki poin-poin yang berbeda untuk ditemukan.

Sedangkan untuk sektor sejarah, kami diajak ke Kranji War Memorial di Woodlands Road yang merupakan taman makam pahlawan Singapura. Di sana, kami mendapatkan wawasan dan misi mengenai para pahlawan Singapura yang ikut terlibat dalam Perang Dunia II. Tempatnya sangat rapi dan bersih, seperti pemandangan Singapura pada umumnya.

Kami juga diajak mengunjungi Parliament House of Singapore, sebuah bangunan publik dan landmark budaya Singapura sebagai pengenalan sektor politik. Pada kesempatan itu, kami mendapatkan wawasan mengenai perkembangan pemanfaatan teknologi rekaman ketika sidang pleno atau lainnya. Dulunya, ada yang bertugas untuk menulis semua suara yang terdengar saat sidang berlangsung. Lalu berkembang menggunakan teknologi terkini sehingga semua suara dapat terekam sekalipun suara itu kecil sekali. Selain itu, kami juga mendapat wawasan bagaimana ceremonial sebelum dan sesudah sidang berangsung. Siapa saja jajaran utama pemimpin sidang, juga perjalanan sejarah perlengkapannya.

Berlanjut pada sektor budaya, kami mengunjungi Arab Street, Little India, dan China Town. Seperti sebelumnya, kami selalu mendapatkan misi penemuan harta karun. Diantaranya, kami jadi tahu kalau pangkal kubah Masjid Sultan di Kampung Gelam, Arab Street ternyata disusun dari botol-botol. Kami juga mengetahui beberapa nama tempat ibadah, nama jalan, nama gang, makanan yang dijual di sekitarnya, mainan atau oleh-oleh yang tersedia, juga budaya setempat. 


Pangkal kubah Masjid Sultan Singapura disusun dari botol-botol
Credit: detikcom

Masjid Sultan, Kampung Gelam
Credit: masjiduna.com

Untuk menjangkau destinasi, kami menaiki bis kampus. Lalu kami berkeliling di lokasi dengan berjalan kaki. Melelahkan bukan, tapi kami bahagia! Seru sekali menyusun strategi dalam berbagi tugas untuk menyelesaikan misi tepat waktu, menemukan hal baru setiap harinya seperti yang Ms. Sharmilla Kanna gaungkan pada kami, “Let’s learn something new everyday!”. Wah, ini sih ngampus rasa liburan! Wkwkwkwk…

Sektor terakhir adalah pariwisata. Kami diajak ke Marina By The Bay, Singapore Botanic Garden, Merlion Park, Sentosa Resort World juga Universal Studio. Ah, asyik ini jalan-jalan beneran, semuanya gratis! MasyaAllah, aku seperti bermimpi bisa menikmati semuanya gratis. Begitu mudah bagi Allah menyampaikan rezeki bagi hamba-hamba-Nya. 

Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?

Di Marina By The Bay kami hanya memotret salah satu iconic Singapura tersebut dikarenakan kami tidak bisa memasuki bangunannya yang saat itu entah mengapa ditutup sementara. Selanjutnya, di Singapore Botanic Garden, kami menikmati air terjun buatan yang menakjubkan, beragam tanaman juga bisa dinikmati melalui jembatan tinggi maupun secara langsung mengelilingi area taman lalu berfoto-foto. Di Merlion Park, kami hanya berfoto-foto dan menikmati es krim khas Singapura yang murah meriah yaitu es potong SGD1. Terakhir, kami dibagi menjadi dua kelompok. Kelompok pertama adalah jurusan IPA, mereka diajak ke Sentosa Resort World. Sedangkan kami, jurusan Teknologi Informatika, diajak ke Universal Studio.

Di Universal Studio, kami dimanjakan dengan beragam wahana berteknologi tinggi juga dengan sajian-sajian menakjubkan sesuai tema tahunan yang berlangsung. Kali itu, kami menikmati tema Madagascar. Seperti memasuki kota kartun! Dekorasi bertema kartun bermacam-macam berjajar lengkap dengan pernak-pernik serta kostumnya, kala itu didominasi oleh tema Madagascar. 

Aku sempat menikmati wahana semacam roller coaster 4D. Wah, efeknya terasa nyata. Mau menabrak tembok tinggi, kereta meluncur mundur dan jatuh serta efek lainnya yang memacu adrenalin. Wahana favoritku!

Pada sore hari, ada parade yang beriringan di jalan-jalan utama Universal Studio dengan tema-tema kartun keluaran Universal Studio. 


Mahasiswa Politeknik Negeri Malang - Republic Polytechnic
di Universal Studio

Ada beberapa tempat yang kami kunjungi sesuai dengan jurusan kuliah kami yaitu kantor Cisco, Microsoft, pabrik 4D printing juga panti wreda. Kami jadi tahu bagaimana suasana kantor IT keren dunia, sangat nyaman! Beberapa pembicara berbagi pengalaman bagaimana mereka bisa bergabung dengan perusahaan elit tersebut serta bagaimana kultur budaya kerja di sana.

Dilanjutkan ke panti wreda untuk mencari permasalahan nyata yang dialami para lansia untuk dicarikan solusinya menggunakan teknologi yang kami kuasai. Keren sekali rasanya, mendapatkan pengalaman baru menemukan solusi untuk permasalahan yang nyata.

—--------------------


Nyasar lagi! Kali ini bareng-bareng hehe.. 


Kami biasanya tidak ada agenda wajib pada akhir pekan. Itu berarti, kami bebas eksplorasi Singapura secara mandiri. Biasanya, kami berjalan bersama-sama menyusuri trotoar lalu berbelanja oleh-oleh untuk dibawa kala pulang nanti.

Jalanan di sana ramah pejalan kaki sehingga sangat nyaman untuk eksplorasi dengan jalan kaki. Mata juga bisa memandang kota yang rapi, banner dan perlengkapan iklan lainnya ditata rapi dengan aturan ketat sehingga tidak merusak pemandangan.

Selain itu, menaiki MRT (Mass Rapid Transit) atau bus juga seru. Tidak perlu khawatir hilang di Singapura. Peta yang terpampang di setiap stasiun, HUB maupun kendaraan umum sudah lengkap. Di samping itu, hampir seluruh bagian Singapura bisa dijangkau dengan kendaraan umum.

Kami ingin pergi ke Mustofa untuk membeli beragam coklat sebagai buah tangan nanti. Saat kami berjalan kaki setelah turun dari stasiun, kami tidak yakin turun di stasiun yang benar. Semakin berjalan, semakin khawatir. Kuusulkan untuk bertanya saja. Namun, beberapa temanku tidak yakin karena menurut mereka orang Singapura tidak ramah. Curiga duluan ceritanya. Mereka mau mengecek di peta. Aku tak sabar, aku pun bertanya pada seorang India yang lewat. Dengan jelas, beliau menunjukkan arahnya, bahkan menawarkan untuk mengantarkan ke tujuan kami. Masyaallah, pelajaran lagi, jangan suka berprasangka duluan. Bertanyalah baik-baik, berdoalah semoga dipertemukan dengan orang-orang yang baik dimanapun kita berada, insyaallah Allah bersama prasangka hamba-Nya.

Di kesempatan lain, aku pun pernah bertanya pada seorang Cina ketika pergi ke Bugis Junction sendirian. Aku tidak yakin turun di stasiun yang benar karena area yang kulewati setelah keluar dari stasiun bawah tanah tampak tidak familiar. Beliau pun menunjukkan arah lalu mengantarkanku ke Bugis Junction. Masyaallah, mereka ramah, bahkan ke orang asing sekali pun.

Ketika di Bugis Junction, aku bertemu dengan pramuniaga yang berasal dari Dampit, Malang. Lalu, aku mendapat banyak potongan harga hehe, rezeki ya..

—---------------


Ahh, Singapura, negara tetangga yang menjadi bagian dari perjalanan hidupku, terkadang aku merindukannya.

Kapan-kapan aku ingin bercerita tentang teman-temanku yang asli Filipina dan Kamboja ya.. Serta keseruan lain saat kami di Singapura, insyaallah..


0 comments:

Posting Komentar